1200 Orang di Madagaskar Meninggal Karena Campak

1200 Orang di Madagaskar Meninggal Karena Campak

Republik Madagaskar mengalami wabah campak terbesar dalam sejarahnya.

Wabah campak di Madagaskar menewaskan 1200 orang.

Konten.co.id – Wabah campak di Madagaskar telah menelan lebih dari 1200 jiwa selama tujuh bulan terakhir. Para orang tua kesulitan untuk mendapatkan vaksinasi karena faktor biaya dan jarak pusat kesehatan masyarakat.

Dilansir dari NBC News, pada pertengahan bulan Maret, 117.075 kasus campak yang menyerang semua wilayah Madagaskar telah dilaporkan oleh kementrian kesehatan. Wabah campak menyerang sebagian besar anak di bawah usia 15 tahun sejak bulan September lalu.

Gizi buruk memperparah epidemi ini. Menurut seorang ahli epidemiologi WHO di Madagaskar Dr Dossou Vincent Sodjinou mengatakan bahwa malnutrisi adalah sarang bagi campak. Hampir 50 persen anak-anak di Madagaskar mengalami malnutrisi.

Di Madagaskar banyak orang yang tidak mampu untuk pergi ke dokter atau membeli obat. Pusat-pusat kesehatan sering kekurangan tenaga kerja atau memiliki tenaga kerja dengan kualifikasi yang buruk.

WHO melaporkan bahwa hanya 58 persen orang yang telah divaksinasi campak di pulau utama negara ini. Untuk mencegah wabah ini menyebar, angka imunisasi harus 90-95 persen atau lebih.

Akibatnya, informasi tentang masalah kesehatan tidak dapat diandalkan. Beberapa orang tua tidak mengetahui bahwa vaksin di pusat kesehatan masyarakt itu gratis. 

Jarak yang jauh juga menjadi salah satu alasan terhambatnya imunisasi. Seorang ibu bernama Nifaliana Razaijafisoa harus berjalan kaki sejauh 15 sambil menggendong bayinya yang berusia 6 bulan untuk pergi ke pusat kesehatan. 

Bagi warga Madagaskar yang terisolasi, mereka mendapat pengaruh agama atau parktisi kesehatan tradisional sehingga mereka menolak untuk imunisasi campak. 

Campak merupakan virus menular yang menyebar melalui udara, seperti bantuk dan bersin. Gejalanya adalah demam tinggi, ruam di kulit, hidung tersumbat, mata memerah, yang bisa terlihat setelah 10-14 hari terkena campak.

Kasus campak di AS dan bagian negara lainnya mengalami peningkatan. Sebagian besar akibat kesalahan informasi yang membuat para orang tua menolak untuk divaksin.(RM)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *