12 April, Larangan Senjata di Selandia Baru Akan Diresmikan

12 April, Larangan Senjata di Selandia Baru Akan Diresmikan

Pemerintah Selandia Baru akan melarang semua jenis senjata yang dipakai Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid. Senjata yang dipakai Brenton dinilai merupakan senjata pembunuh.

Pascaaksi Terorisme di Christchurch, Selandia Baru Akan Resmikan Larangan Penggunaan Senjata

Konten.co.id – Pemerintah Selandia Baru akan meresmikan undang-undang yang melarang jenis senjata yang dipakai untuk penyerangan di dua masjid di Christchurch Maret lalu. Undang-undang ini akan diresmikan pada tanggal 12 April 2019.

Rencana perubahan hukum pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Jacinda Adern setelah tragedi tersebut terjadi. Menteri Kepolisian Stuart Nash, mengatakan bahwa jika anggota parlemen meloloskan RUU seperti yang diharapkan, undang-undang tersebut akan mulai berlaku pada 12 April 2019, kurang dari sebulan setelah serangan tanggal 15 Maret 2019.

Dilansir dari Daily Mail, RUU ini memiliki dukungan bipartisan dan bahkan mendapatkan suara penuh dari semua anggota parlemen yang berjumlah 120 orang.

Nash mengatakan bahwa salah satu senjata yang digunakan oleh Brenton adalah senapan berjenis AR-15, yang menurutnya senjata tersebut dirancang untuk membunuh orang. Pemerintah akan melarang semua jenis senjata yang digunakan oleh Brenton.

RUU tersebut akan melarang senjata semi otomatis military style, high-capacity magazines, senapan semi otomatis, yang bisa dilengkapi dengan tempat peluru yang bisa dilepaskan yang dapat menampung lebih dari lima putaran.

Petugas polisi, anggota militer, dan beberapa pihak berwenang lainnya termasuk kedalam pengecualian dalam udang-undang ini. RUU tersebut tidak akan melarang senjata yang sering digunakan oleh petani dan pemburu, termasuk pistol semi otomatis kaliber 22 atau senjata kecil yang menampung 10 peluru, atau senapan yang menyimpan hingga lima peluru.

Nash mengatakan bahwa senjata-senjata yang digunakan oleh pelaku telah meninggalkan warisan nasional berupa bahaya, kesakitan, dan kesedihan.

Dia mengatakan pelaku membeli senjata semi otomatis dan high-capacity magazines secara legal, kemudian menggabungkan keduanya untuk membuat senjata gaya militer, yang digunakannya untuk membunuh 50 orang.

RUU itu juga akan memberikan hukuman yang lebih berat kepada orang yang menggunakan senjata tersebut setelah pelarangan dikeluarkan.

Anggota parlemen bermaksud untuk memperkenalkan lebih banyak undang-undang di akhir tahun ini, termasuk pembuatan register untuk melacak senjata.

Pemerintah memberikan kompensasi  kepada pemilik senjata terlarang sekitar 200 juta dolar Selandia baru atau sekitar Rp 2,8 triliun. Mereka akan memberi kesempatan hingga 30 September untuk menyerahkan senjata yang dilarang kepada pemerintah Selandia Baru. Sebanyak 200 orang telah menyerahkan senjatanya tetapi masih menunggu pengumuman rincian skema pembelian. (RM)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *