#WorldWaterDay Menggema, Krisis Air Harus Dihilangkan

#WorldWaterDay Menggema, Krisis Air Harus Dihilangkan

22 Maret merupakan hari air sedunia. Jangan hanya seremonial belaka dalam peringatannya, namun harus ada langkah nyata untuk antisipasi krisis air.

Peringatan Hari Air Sedunia, Indonesia Krisis Air

Konten.co.id – Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret ini membahas tentang mengatasi krisis air di dunia yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Sebagai negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia, ketersediaan air bersih yang belum merata menjadi isu penting karena memengaruhi segala aspek kehidupan.

Mulai dari kesehatan hingga kesejahteraan masyarakat. Kemudahan akses terhadap air bersih juga dipercaya sebagai cara untuk memutus mata rantai kemiskinan.

Sebanyak 33,4 juta penduduk kekurangan air bersih dan 99,7 juta jiwa kekurangan akses untuk ke fasilitas sanitasi yang baik.

Sayangnya, peningkatan ekonomi Indonesia selama 20 tahun terakhir tidak dibarengi dengan pemerataan akses air bersih.

Sebanyak 33,4 juta penduduk kekurangan air bersih dan 99,7 juta jiwa kekurangan akses untuk ke fasilitas sanitasi yang baik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan capaian akses air bersih yang layak saat ini di Indonesia mencapai 72,55 persen. Angka ini masih di bawah target Sustainable Development Goals (SDGs) yakni sebesar 100 persen.

Disampaikan Tri Dewi Virgiyanti, Direktur Perkotaan, Perumahan dan Pemukiman Bappenas beberapa waktu lalu, Indonesia sendiri telah mencanangkan target pencapaian akses air bersih yang layak di akhir 2019 sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Itu sebabnya, saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mencapai target tersebut.

“Salah satu upaya yang efektif untuk mencapai target tersebut adalah dengan mengoptimalkan potensi perusahaan air baik di pedesaan maupun perkotaan. Pasalnya, kebutuhan pendanaan tahun 2015-2019 untuk mencapai akses air minum yang merata mencapai Rp 253,8 triliun,” ujar Tri dilansir dari Merdeka.com.

Sementara itu Kementerian Lingkungan Hidup dalam cuitannya di akun twitter @KementrianLHK mengatakan “kelompok terpinggirkan – perempuan, anak-anak, pengungsi, masyarakat adat, orang cacat dan banyak lainnya – sering diabaikan, & kadang-kadang menghadapi diskriminasi, ketika mereka mencoba mengakses & mengelola air bersih yg mereka butuhkan”.

Tanpa air, hidup akan berhenti. Karenanya kita perlu memperpanjang daya air untuk menopang kehidupan. Setiap orang harus dapat mengakses air bersih sebagai hak hidup. (AI)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *