Tuding Kelompok Radikal di Kubu 02, Said Aqil Dipolisikan

Tuding Kelompok Radikal di Kubu 02, Said Aqil Dipolisikan

Said Aqil Siradj akhirnya dilaporkan karena dinilai melakukan ujaran kebencian.

Pernyataan Said Aqil Tuai Polemik

Konten.co.id (Jakarta) – Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNUSaid Aqil Siradj soal Kelompok Radikal di Kubu 02 menuai polemik. Said dilaporkan oleh Koordinator Laporan Bela Islam (Korlabi) Damai Hari Lubis ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Senin (18/3).

Dilansir CNN Indonesia, Said diduga telah melakukan tindak pidana ujaran kebencian karena pernyataannya di acara Catatan Najwayang tayang di akun media sosial Youtube, Najwa Shihab pada Jumat (15/3) lalu.

Ketum PBNU itu hadir sebagai narasumber dalam acara Catatan Najwa dengan mengangkat tiga tema besar, yakni ‘NU di Pusaran Politik’, ‘Said Aqil soal Kafir’, dan ‘Ramalan Gus Dur soal Ustaz Dadakan’.

Damai menduga, pernyataan Said tersebut mengandung unsur ujaran kebencian ada dalam perbincangan yang mengangkat tema ‘NU di Pusaran Politik’. Pernyataan itu diutarakan Said dalam dialog antara menit 11:24 hingga 15:10.

Sebelumnya, Najwa bertanya terkait keberadaan anggota PBNU yang tidak mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Said kemudian menjawab bahwa dirinya hanya mengetahui satu anggota PBNU yang secara implisit tidak mendukung Jokowi-Ma’ruf, yakni KH Hasib Wahab. Namun, dia meyakini, hal tersebut tidak signifikan dan tidak berefek sama sekali di kalangan NU.

Setelah itu, Said menjelaskan bahwa NU berkomitmen untuk memperjuangkan Islam yang moderat. Menurutnya, NU pun senantiasa menyuarakan gerakan anti-radikalisme, anti-ekstremisme, dan anti-terorisme. 

Lanjutnya, keberadaan pendukung radikalisme tersebut bisa dilihat saat ini berada di kelompok mana.

Presenter senior itu kemudian bertanya ke Said terkait apakah kelompok yang diisi pendukung radikalisme sebagaimana dimaksud oleh Said tersebut merupakan barisan dari kubu capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ditanya seperti itu, Said sempat melempar kembali ke Najwa untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Namun, Said kemudian mengiyakan bahwa pendukung radikalisme banyak berada di barisan Prabowo-Sandi.

Kemudian, perbincangan Najwa dan Said dalam tema NU di Pusaran Politik berlanjut ke pembahasan hasil Ijtima Ulama yang memberikan dukungan ke Prabowo-Sandi hingga ke pembahasan terkait sosok yang dapat disebut sebagai ulama

Berikut isi bincang-bincang antara Najwa dan Said yang mengangkat tema ‘NU di Pusaran Politik’ di acara Catatan Najwa yang diduga dipermasalahkan oleh Damai.

Najwa: Kalau kita lihat, misalnya di dalam pengurus PBNU sendiri ada yang menyatakan tidak sependapat dengan berbagai langkah yang dilakukan, termasuk secara implisit mendukung Jokowi-Ma’ruf?

Said: Cuma satu orang yang saya tahu, KH Hasib Wahab.

Najwa: Berarti tidak signifikan?

Said: Bahkan tidak ada efek sama sekali.

Najwa: Yakin?

Said: Yakin, untuk NU loh ya. Walhasil begini, NU punya komitmen bahwa Islam yang akan kita perjuangkan selamanya al Islam wassatiyah atau moderat, maka NU di mana pun akan bersuara anti-radikalisme, anti-ekstremisme, apalagi sampai terorisme. Sekarang berada di mana itu kelompok radikalnya? Nah bisa kelihatan kan.

Najwa: Anda mau mengatakan itu berada di barisan kubu 02?

Said: Kira-kira setuju enggak Mba Najwa?

Najwa: Saya bertanya kepada Ketua Umum PBNU.

Said: Mba Najwa setuju enggak?

Najwa: Tetapi apakah memang arahnya ke sana Pak Kiai melihat?

Said: Ya, ya, ya, ya

Najwa: Banyakan di kelompok 02?

Said: Iya, ya

Najwa: Karena, misalnya kita ingat ketika memutuskan untuk menggandeng cawapres, Prabowo Subianto ditasbihkan yang namanya Ijtimak Ulama. Kemudian, ada sejumlah kiai yang merasa memiliki pengaruh dan pengikut yang banyak dan itu kemudian seolah-olah mendukung kiai tersebut berarti pendukungnya Prabowo-Sandi?

Said: Ini kalau dijawab secara rinci panjang, tapi kalau ringkas begini. Islam tawassuth atau Islam ahlussunnah wal jamaah Islam yang menggabungkan antara teks Alquran, hadits, dan akal. Akal ada dua, akal kolektif namanya ijmak konsensus akal sporadis namanya kias analogi. 

Said: Ini yang menguasai hal ini mayoritas ulama pesantren di NU. Silakan anda bicara dengan ulama yang non NU, saya kira kurang fasih membicarakan ini, tapi kalau bicara dengan kiai-kiai di pesantren NU akan fasih berbicara Alquran itu ada berapa macam ayatnya.

Najwa: Dan itu semua keahlian kiai-kiai NU?

Said: Kalau sudah ahli begini namanya ulama, kalau enggak bukan ulama

Najwa: Jadi bagaimana menyebut mereka yang merasa ulama padahal tidak punya kemampuan itu?

Said: Ya enggak tahu saya, tapi yang jelas kalau ulama harus mampu begini. (ME)

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Pilihan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *