Takut Kiamat, Warga Berduyun-duyun Pindah ke Malang

Takut Kiamat, Warga Berduyun-duyun Pindah ke Malang

Percaya akan adanya kiamat sudah tercantum dalam rukun iman di agama Islam. Tapi jangan sampai meniru perilaku warga di Ponorogo ini.

Katimun Ajak Warga’Hijrah’ ke Malang Hindari Kiamat

Konten.co.id (Ponorogo) – Takut kiamat, ramai-ramai warga di Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo pindah ke Malang. Rumah dan harta benda mereka disimpan begitu saja.

Sebanyak 52 warga memilih ‘hijrah’ ke Malang karena takut kiamat. Paham ini dibawa oleh seorang bernama Katimun, warga Desa Watu Bonang. Sepulang dari menimba ilmu, Katimun membuka pengajian dan menyebarkan paham tersebut.

Tak hanya pindah kampung, mereka juga menjual harta benda dan membekali diri dengan pedang yang dibeli dari kyai seharga Rp 1 juta.

Ipong mengaku sangat prihatin masih ada masyarakat yang mempercayai doktrin menyesatkan tersebut.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni menyayangkan hal ini. Pihaknya mengaku sudah memberi pemahaman tentang hal tersebut sejak sebulan lalu. Namun diabaikan oleh warga Desa Watu Bonang.

“Isu tidak masuk akal. Sesungguhnya kita sudah melakukan pembinaan sekaligus memberikan pemahaman. Tapi, ya sulit. Mereka telanjur percaya dan meyakini isu kiamat,” kata pria yang akrab disapa Ipong ini dilansir dari Indonesiainside.id, Kamis (14/3/2019).

Ipong mengaku sangat prihatin masih ada masyarakat yang mempercayai doktrin menyesatkan tersebut.

Ia menuturkan, harus ada upaya yang serius dari organisasi masyarakat keagamaan untuk memberikan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat. Tujuannya agar tidak mudah percaya doktrin ataupun isu yang menyesatkan.

Hal senada diungkapkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo Anshor M Rusdhi.

Dikatakannya bagi umat Islam, kiamat pasti datang. Bahkan percaya pada hari kiamat adalah rukun Iman yang wajib diyakini.

Namun, bukanlah mempercayai kapan dan di kampung mana akan terjadi kiamat.

“Itu (kiamat) memang wajib diyakini, wajib diistiqoti. Tetapi kalau sudah menyebut tanggal hari dan sebagainya, itu sudah di luar ajaran,” katanya.

Sejauh ini Rusdhi mengaku belum mengetahui apa yang diajarkan kepada jamaah pengajian di Desa Watu Bonang. Namun pihaknya secepatnya akan mengecek dan melihat kondisi masyarakat dan ajaran yang diterima warga di sana.

“Yang penting itu iman. Berbuat baik sesuai ajaran agama, itu yang penting. Bermanfaat untuk dirinya dan orang lain,” jelasnya.

Diketahui, sebanyak 52 warga dari 15 kepala keluarga (KK), Desa Watu Bonang, Ponorogo, pindah ke Malang. Alasannya cukup unik. Mereka menghindari kiamat. Dari 52 warga tersebut, 22 di antaranya anak-anak. (AI)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *