Respon Buruk Kembali Timpa Facebook Usai Beberapa Peristiwa

Respon Buruk Kembali Timpa Facebook Usai Beberapa Peristiwa

Beberapa peristiwa membuat saham Facebook anjlok. Dimulai dari persoalan iklan kampanye, gangguan akses, hingga siaran langsung pembantaian di Selandia Baru.

Saham Facebook Merosot Setelah Aksi Pembantaian Selandia Baru

Konten.co.id – CEO Facebook mengalami minggu-minggu buruk di bulan Maret tahun ini. Dimulai dengan proposal dari Senator AS pada 8 maret 2019, Elizabeth Warren, yang akan memecah perusahaannya.

Disusul kesalahan teknis, lalu yang paling buruk datang pada hari Jumat, yang menayangkan siaran langsung pembantaian di Selandia Baru.

Dilansir dari Bloomberg, banyaknya berita buruk yang menimpa Facebook, membuat saham perusahaan merosot 2,5 persen. Berjumlah hampir 165,98 dollar pada hari Jumat (15/3/2019). Tercatat sebagai hari terburuk selama dua bulan ke belakang.

Usulan Warren menimbulkan keresahan baru untuk Facebook, investor, dan para penggunanya. Mereka mempertanyakan apakah benar perusahaan yang didirikan oleh lulusan Universitas Harvard pada tahun 2004 ini lebih banyak hal negatif daripada positif.

Beberapa hari setelah Warren mengumumkan rencananya, Facebook menarik sejumlah iklan kampanye senator tersebut dari lamannya.

Iklan tersebut menargetkan perusahaan teknologi besar, termasuk Facebook untuk memecah perusahaan dengan mengembalikan akuisisi besar, jika terpilih sebagai presiden tahun 2020.

Mark memberikan alasannya menghapus iklan tersebut karena melanggar kebijakan perusahaan terhadap penggunaan logo perusahaan.

Namun ia akan mengembalikan iklan tersebut demi kepentingan debat, walaupun ia memiliki pendapat bahwa media sosial bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat.

Pada hari Rabu (13/3/2019) sekitar jam 11.15 pagi waktu New York, Facebok, Instagram dan Whatsapp mengalami gangguan di seluruh dunia.

Masalah yang ditimbulkan berbeda mulai dari lamanya durasi masuk ke laman, tidak bisa melihat konten sama sekali, atau kesulitan untuk mengirim pesan.

Facebook mengatakan masalah tersebut disebabkan oleh perubahan dalam sistem server perusahaan.

Facebook menghadapi penyelidikan yang sedang berlangsung di seluruh dunia mengenai pelanggaran mengenai informasi pribadi penggunanya tanpa persetujuan mereka kepada Cambridge Analytica, sebuah badan konsultasi politik.

Lalu, tragedi di Selandia Baru kemarin telah menambah poin negatif terhadap Facebook. Seorang pembantai melakukan live-streaming di Facebook saat menembaki umat Muslim yang sedang beribadah di masjid.

Ia juga memposting manifesto rasis yang panjang di akun Facebooknya, yang langsung disebarkan di dunia maya. Facebook dengan cepat langung menghapus akun Facebook dan Instagram pembantai tersebut.

Zuckerberg mengungkapkan bahwa sulit untuk mengatur konten yang diposting oleh 2,7 miliar pengguna yang dapat menguntungkannya. (RM)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *