Protes Mata Pelajaran LGBT di Inggris Berlanjut

Protes Mata Pelajaran LGBT di Inggris Berlanjut

Kurikulum yang mengajarkan hubungan sesama jenis di Inggris terus mendapat penolakan. Kaum LGBT pun berusaha berkomunikasi dengan para penolak aturan itu.

Komunitas LGBT Jalin Komunikasi Dengan Penentang Pelajaran LGBT

Konten.co.id (Inggris) – Sebuah kelompok LGBT+ dengan ratusan anggotanya berusaha untuk dapat berkomunkasi dengan para orang tua yang telah memprotes dan meminta mata pelajaran tentang hubungan sesama jenis di sekolah dasar dihapuskan.

Kelompok ini terdiri dari para pendidik profesional LGBT+ dan dibentuk setelah program “No Outsiders”, yaitu pelajaran tentang pasangan sesama jenis melalui buku bergambar di sekolah dasar diprotes oleh para wali murid. Mereka menyatakan pendapatnya untuk mendukung pelajaran tentang hubungan sesama jenis di sekolah.

“Kami berdua (kelompok LGBT dan orang tua) berurusan dengan homofobia, transfobia dan Islamofobia,” ujar Ann Sawyer, pendiri kampanye online baru, yang dilansir dari The Independent.

Protes tersebut dilaksanakan kembali oleh para orang tua di luar Parkfield Comunity School di Brimingham pada hari kamis (21/3/2019).

Parkfield Community School merupakan sekolah yang menyediakan mata pelajaran tentang hak-hak LGBT+ yang dikenalkan oleh kepala sekolah Andrew Moffat empat tahun lalu.

Sebuah kertas yang bertuliskan “Adam dan Hawa. Bukan Adam dan Steve” terlihat dalam sebuah demo baru-baru ini meskipun No Outsiders telah ditangguhkan di Parkfield dan empat sekolah lainnya di kota tersebut.

Sawyer yang merupakan seorang wanita transgender mengatakan bahwa dia diperlakukan dengan sangat hormat oleh para orang tua dan tokoh masyarakat ketika dia dan anggota kelompok LGBT+ lainnya makan bersama.

“Banyak protestan yang tampaknya bukan orang tua di sekolah (Komunitas Parkfield). Orang yang mempunyai urusan lain datang dan memicu masalah lainnya,” ujarnya.

Anggota komunitas Kristen dan Islam akan bertemu di Birmingham pada Sabtu (23/3/2019) malam untuk menentang reformasi kurikulum hubungan dan pendidikan seks dan Perwakilan dari Seeds (Supporting Education of Equality and Diversity in Schools) berencana untuk membagikan selebaran diacara tersebut untuk memastikan suara mereka di dengar.

Kelompok ini berharap dapat berekspansi ke daerah lain di Inggris, terutama Birmingham. Beberapa sekolah di Greater Manchester telah didatangi oleh orang tua yang khawatir tentang rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran tersebut menjadi wajib di sekolah dasar.

Amelia Lee, direktur strategis dari The Proud Trust, sebuah yayasan amal pemuda LBT+ di Manchester, mengatakan bahwa dia mendukung gerakan kelompok LGBT+ untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua.

“Sebagai seorang Katolik dan lesbian, saya mengerti bahwa tak jarang orang merasa hal ini adalah percakapan yang sulit dilakukan. Ada orang-orang dan pasangan LGBT+ di setiap pasangan. Hal ini penting kita memiliki wadah untuk membahas hal ini lebih lanjut untuk memastikan tidak ada yang terintimidasi atau dikecualikan dari komunitas mereka. Islamofobia dan LGBT+ fobia sama-sama mengerikan,” ujarnya. (RM)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *