Petahana, Strategi Perang ke-37

Petahana, Strategi Perang ke-37

Strategi perang mulai digulirkan calon petahana dan lawannya. Gerakan struktural dan nonstruktur dikerahkan.

Injury Time, Petahana Keluarkan Strategi Perang ke-37

Oleh : Kang Oni

PERANG politik di Negeri Garuda berlangsung semakin seru. Dua kubu petarung kian sengit melancarkan strategi untuk menghancurkan musuh masing-masing.

Selain menggunakan pasukan struktural (tim sukses dan relawan resmi), kelompok-kelompok gerilyawan nonstruktur kedua kubu berperang lebih masif.

Relawan nonstruktur, adalah para simpatisan sangat tahan banting. Mereka takkan bergeming oleh kondisi apapun yang menimpa calon atau tim sukses yang didukungnya. Mereka bukan pasukan nasi bungkus ataupun penerima sembako.

Mereka adalah pasukan yang hanya tunduk kepada instruksi hati dan keyakinanan akan pilihannya sendiri. Mereka tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan senjata apapun. Termasuk ancama agama sekalipun. Apalagi hanya mengandalkan opini yang dibangun di media sosial. Sebab, mereka bukan pemuja amplop. Mereka adalah relawan naluri sejati.

Kali ini, memang tidak bermaksud menelisik lebih jauh tentang mereka. Sebab, ada yang lebih menarik dari strategi politik di Negeri Khatulistiwa. Khususnya yang dimainkan petahana.

Kalau menelisik sepak terjang serangan kubu oposisi, mereka masih memainkan pola lama. Pola standar. Strategi 36. Strategi perang “Sajak Tiongkok”, yang sangat dikenal oleh para ahli strategi militer sejak ratusan tahun lalu.

Ya, begitulah. Kubu oposisi lebih banyak memainkan strategi kedua. Sebab, mereka sangat menyadari, petahana adalah musuh yang terlalu tangguh untuk dikalahkan.

“Kepung Wei untuk menyelamatkan Zao”. Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya.

Sayang, dalam dua kali serangan awal. Mereka salah posisi saat memegang pisau. Bukan tangkai yang dipegang, malah bagian pisau tajamnya digenggam. Tak pelak, ketika ditusukkan dengan keras. Bukan lawan yang terluka, justru tangan sendiri yang berlumuran darah dan tercabik-cabik. Dua hoax yang digulirkan, jelas-jelas berbalik arah. Sangat memalukan dan merugikan kubu oposisi sendiri.

Sebaliknya, cukup sulit menebak sajak perang yang diteriakkan kubu petahana di menit-menit krusial pertarungan. Strategi terakhir yang bergulir, memang tidak tercantum dalam pola serangan 36 “Sajak Tiongkok”.

Ini bukan strategi ke-34. Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Musuh akan bersantai sejenak, atau ini merupakan jalan untuk menjilat musuh dengan berpura-pura terluka agar musuh merasa aman. Sejumlah OTT yang dilakukan penegak hukum, jelas-jelas akan sangat merugikan kubu petahana.

Tetapi, dengan entengnya sang komandan mengatakan, semua orang sama di mata hukum. Dengan dalih menghormati penegakan hukum, sang komandan membiarkan satu dua anggota pasukan utamanya masuk kerangkeng.

Tentu, strategi ini teramat sangat sulit difahami. Sekalipun oleh pengagum palsafah akal sehat. Sebab, saat ini memasuki detik-detik akhir pertempuran. Justru seharusnya seluruh anggota pasukan semakin disolidkan. Bahkan diberi amunisi lebih banyak agar bisa menyerang musuh dengan leluasa.

Independensi penegakan hukum kini hanya retorika. Di negeri manapun. Independensi hukum memang sudah hilang dalam kamus manusia sejak beliau – Rasulullah SAW, dan para sahabat, meninggalkan kita. Termasuk di rumah kita.

Toh, banyak realita mudah dibaca. Satu dua pohon sengaja dibiarkan berdiri tegak di tengah jalan, meski menghalangi laju kendaraan penegakan hukum yang sedang melaju kencang.

Memang terkesan cukup adil. Sebab di sana ada juga pohon milik kubu oposisi, tidak ikut ditebang. Pohon itu bahkan dibiarkan tumbuh liar sehingga akarnya menjalar ke mana-mana.

Boleh jadi, ini sengaja dibuat alibi. Ketika ada yang menanyakan kenapa kondisi jalan tidak mulus, akar pohon itulah yang diframing menjadi kambing hitam.

Nyata-nyata, komandan petahana sedang memainkan jurus lain. Pola baru ke-37. Pola serangan yang belum pernah dikenal musuh, dan tidak tercantum dalam strategi perang “Sajak Tiongkok”.

Strategi serangan pada injury time ini, baru akan terbaca dan terlihat hasilnya setelah tanggal 17 April 2019 nanti. ***

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *