Penembak Jamaah Masjid Dituntut Pasal Pembunuhan

Penembak Jamaah Masjid Dituntut Pasal Pembunuhan

Pelaku penembakan di Selandia Baru langsung diseret ke Pengadilan. Tuntutan yang diberikan kemungkinan lebih dari satu.

Pelaku Penembakan di Selandia Baru Dihadirkan di Pengadilan

Konten.co.id (Selandia Baru) – Pelaku penembakan di dua masjid di Selandia Baru dihadirkan di pengadilan pada Sabtu (16/3/2019).

Brenton Tarrant, penduduk Australia, tampak menggunakan pakaian tahanan dan kedua tangannya diborgol.

Diketahui pada Jumat (15/3/2019), Tarrant merekam aktivitasnya saat menembak orang-orang yang sedang beribadah di dua masjid di Christchurch. Setidaknya 49 orang dinyatakan tewas akibat tindakan Tarrant.

Sehari setelah peristiwa itu, banyak orang yang berkumpul di depan masjid untuk melakukan penghormatan. Mereka memberikan bunga dan berdoa untuk para korban.

Pemerintah Selandia Baru menegaskan aksi Brenton masuk dalam kategori terorisme.

Senjata api biasanya digunakan oleh pihak keamanan yang sedang bertugas, yang digunakan baik untuk mempertahankan diri sendiri, orang lain atau melumpuhkan pelaku kejahatan. Namun, ada beberapa negara yang memperbolehkan warga sipilnya untuk memiliki senjata api, tentu dengan peraturan-peraturan yang ditentukan oleh masing-masing negara.

Amerika Serikat menempati urutan pertama sebagai pemilik senjata terbanyak, terutama di kalangan pria kulit putih, dengan berbagai macam alasan untuk memiliki senjata.

Angela Stroud, seorang Sosiolog di Northland Colege, mengatakan ketika ia mempelajari permohonan untuk lisensi kepemilikan senjata api di Texas, didominasi oleh orang kulit putih, terutama pria.

Ia mengungkapkan, saat mewawancarai para pemohon, mereka mempunyai alasan untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dicintai, seperti keluarga, atau mempunyai perasaan tidak aman terhadap lingkungannya.

Stroud juga mengungkapkan berdasarkan hasil penelitian di Inggris tahun 2013 bahwa rasisme menjadi alasan salah satu alasan meningkatnya keinginan memiliki senjata hingga 50 persen.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Paul Foese dan F.Carson Mencken, Sosiolog di Universitas Baylor, juga mengemukakan bahwa faktor ekonomi yang kurang menjadi salah satu alasan pria kulit putih memiliki senjata. Mereka merasa dengan memiliki senjata membuat mereka merasa lebih baik dan lebih dihormati. Bagi pria kulit putih senjata merupakan simbol kekuasaan.

Mereka (yang memiliki senjata) cenderung kurang berpendidikan dan tidak religius. Menurut penelitian, agama atau keyakinan menjadi salah satu faktor berkurangnya minat atau sebagai rem seseorang untuk memiliki senjata.

Memiliki senjata dengan alasan moral dan perasaan semacam ini memiliki banyak konsekuensi. Pria kulit putih cenderung mempercayai bahwa dengan memiliki senjata merupakan solusi untuk kehidupan sosial mereka. Menurut mereka, dengan senjata akan mengurangi tindak kekerasan dan memperbanyak orang sopan.

Faktanya, mengoleksi senjata tampaknya merupakan gejala dari krisis makna dan tujuan dalam hidup mereka. Secara keseluruhan, studi tersebut menggambarkan kelompok yang berjuang untuk menemukan makna kehidupan yang baru atau ingin di akui oleh masyarakat.

Bahkan, orang-orang yang dibunuh sebagian besar dibunuh oleh pria kulit putih yang memiliki senjata, yang ironisnya merupakan keluarga mereka sendiri. Keberadaan pistol di rumah memungkinkan lima kali lebih besar untuk seorang wanita dibunuh oleh suaminya.

Menurut Ceters for Sidease Contro and Prevention, pria kulit putih kemungkinan besar melakukan bunuh diri dengan pistolnya sendiri, terutama ketika kesulitan ekonomi. Seorang pria kulit putih tiga kali lebih mungkin untuk menembak dirinya sendiri daripada pria kulit hitam.

Untuk mengatasi hal ini, banyak penelitian yang menunjukan bahwa membatasi jumlah senjata dan amunisi yang dimiliki tentu akan dapat menyelamatkan banyak nyawa. Tetapi, tidak ada hukum yang dapat mengatasi perasaan, makna dan tujuan pria kulit putih yang mungkin dapat mereka peroleh melalui interaksi sosial dengan orang-orang yang tidak memiliki ekonomi stabil.

Stroud mengatakan bahwa kita perlu mendorong “pria kulit putih” ini untuk memiliki koneksi dengan orang lain dan mengetahui hubungan antar satu sama lain. (RM/AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *