Pemerintah Mali Pecat Perwira Militer Senior

Pemerintah Mali Pecat Perwira Militer Senior

Pemerintah Mali memecat perwira militer pascaaksi pembantaian di sebuah desa. Pemecatan sebagai tanggapan atas kekerasan yang terjadi.

Pascapembantaian di Mali, Pemerintah Pecat Perwira Militer

Uni Eropa menyerukan untuk segera mengambil langkah untuk melucuti dan membubarkan semua milisi etnis yang ada di Mali.

Konten.co.id (Mali) – Pemerintah Mali pada Minggu (24/3/2019) mengumumkan pemecatan perwira militer senior dan pembubaran milisi etnis. PBB mempunyai misi untuk melindungi dan memberi dukungan untuk mencegah serangan lebih lanjut.

Dilansir dari France 24, Perdana Menteri Soumeylou Boubeye Maiga mengatakan, kepala militer baru akan dipilih. Dia juga mengatakan kelompok Dan Nan Ambassagou yang anggotanya terdiri dari pemburu Dogon telah dibubarkan. Tujuan pembubaran milisi etnis tersebut adalah untuk mengirim pesan kepada masyarakat bahwa perlindungan penduduk akan tetap menjadi prioritas negara.

Korban yang selamat dari serangan hari Sabtu (23/3/2019), mengatakan bahwa pemburu etnik Dogon melakuan pembantaian di Ogossagou, sebuah desa di Mali tengah yang dihuni oleh komunitas Fulani.

Serangan tersebut dipicu oleh tuduhan para pengembala Fulani yang menggembalakan ternak di tanah milik kelompok Dogon dan memperselisihkan masalah akses tanah dan air. Daerah Dogon juga terganggu oleh pengaruh jihadis.

Maiga tidak menyebutkan nama perwira senior yang dipecat. Tetapi sumber-sumber kementerian pertahanan mengatakan bahwa mereka adalah Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, M’Bemba Moussa Keita. Kabar pemecatan ini diumumkan oleh perdana menteri beberapa jam setelah pertemuan darurat atas perintah Presiden Ibrahim Boubacar Keita sebagai tanggapan atas pembantaian tersebut.

Uni Eropa menyerukan untuk segera mengambil langkah untuk melucuti dan membubarkan semua milisi etnis yang ada di Mali.

Serangan tersebut merupakan yang paling mematikan sejak akhir intervensi militer yang dipimpin Perancis pada tahun 2013 yang mendorong kembali kelompok-kelompok jihadis yang telah mengambil kendali atas Mali Utara.

Juru bicara PBB, Antonio Guterres mengatakan misi PBB bersama The United Nations Multidimensional Intergrated Stabilization Mission in Mali (MINUSMA) di Mali yaitu memberikan dukungan udara untuk mencegah serangan lebih lanjut dan membantu Evakuasi korban cedera.

Serangan itu terjadi pada hari hari Sabtu (23/3/2019) di dekat desa perbatasan Burkina Faso. Disebuah distrik yang sering mengalami kekerasan antar komunitas. Para pejuang jihadis juga muncul sebagai ancaman di Mali tengah dalam empat tahun terakhir. Sebuah kelompok yang dipimpin oleh pengkhotbah Islam radikal Amadou Koufa telah merekrut terutama dari komunitas Fulani.

Sejak itu, telah terjadi bentrokan berulang antara Fulani dan Dogon dan tahun lalu kekerasan itu menewaskan sekitar 500 nyawa sipil (angka PBB).

Pada bulan Januari, pemburu Dogon disalahkan atas pembunuhan 37 orang di desa Fulani lain, Koulogon, di wilayah yang sama.Fulani telah berulang kali menyerukan perlindungan dari pihak berwenang. Pemerintah Bamako membnatah tuduhan mereka yang mengatakan bahwa pemerintah menutup mata terhadap sengan Dogon terhadap Fulani

Setelah dianggap sebagai suar demokrasi dan stabilitas di Afrika, Mali dalam beberapa tahun terakhir telah dirundung kudeta, perang saudara, dan terorisme Islam.

Ekstremis yang terkait dengan Al-Qaeda mengambil kendali atas gurun di utara pada awal 2012, tetapi sebagian besar diusir dalam operasi militer yang dipimpin Perancis yang diluncurkan pada Januari 2013.

Pada Juni 2015, pemerintah Mali menandatangani perjanjian damai dengan beberapa kelompok bersenjata. Ttetapi para jihadis tetap berkeliaran dan wilayah-wilayah besar negara itu tetap tanpa hukum.

Kekerasan terus terjadi meskipun ada pasukan penjaga perdamaian PBB termasuk kontingen militer Prancis yang kuat dan pembentukan kekuatan militer lima negara di kawasan itu. (RM)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *