Pembalakan Jadi Penyebab Banjir di Sentani

Pembalakan Jadi Penyebab Banjir di Sentani

Banjir bandang di Sentani diduga karena kerusakan hutan. Padahal BNPB sudah memberi peringatan sejak jauh-jauh hari.

79 Meninggal, 43 Belum Ditemukan Akibat Banjir Bandang Sentani

Konten.co.id (Papua) – Direktur Walhi Papua Aiesh Rumbekwan mengklaim penggundulan hutan jadi penyebab banjir bandang menerjang Sentani, Papua, Minggu (17/3/2019). 

Dilansir DW.com, dirinya mengungkapkan pemerintah lokal dianggap lalai sebab sudah ada peringatan dari otoritas bencana. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Senin (18/3/2019) petang, 79 jiwa meninggal dunia dan 43 orang belum ditemukan akibat bencana ini.  

Banjir bandang yang disertai longsor menerjang sembilan kelurahan dan menyebabkan sekitar 4.728 jiwa mengungsi.

Pihaknya mengindikasikan bahwa banjir bandang di Sentani bukan hanya disebabkan faktor alam melainkan disebabkan deforestasi atau pembalakan hutan di cagar alam Cycloop, Jayapura.

“Kayu gelondongan yang terbawa arus memperlihatkan kayu bukan dibawa karena longsoran. Pohon yang ditebang. Itu nampak sekali, sehingga dugaan kami ada terjadi pembalakan di atas,” ungkap Aiesh.

Sebelum bencana terjadi, BNPB mengaku telah memperingatkan pemerintah setempat terkait risiko banjir yang terjadi akibat aktivitas warga di sekitar pegunungan Cycloop, Jayapura.

“Kerusakan hutan di pegunungan telah meningkat karena digunakan sebagai kayu bakar dan untuk mengubah tanah menjadi perkebunan,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Indikasi akan adanya kerusakan hutan dari BNPB kepada pemerintah setempat menurut Walhi seharusnya sudah menjadi peringatan penting, meski pemicu kerusakan adalah aktivitas warga sekitar.

“Ada pembalakan namun itu bukan korporasi secara luas, tapi aktivitas manusia yang kecil juga sangat berpengaruh sebenarnya,” kata Aiesh Rumbekwan 

“Peringatan ini dikeluarkan dan hari ini menuai bencana,  itu artinya dugaan kami ada kelalaian dan fungsi kontrol di lapangan tidak berjalan,” katanya. 

Bupati Jayapura Mathius Awaitaouw mengaku sudah berulang kali mengingatkan warga agar tidak mendirikan bangunan di pegunungan Cycoop karena daerah itu masuk wilayah cagar alam. Namun peringatan tersebut diakui tidak diindahkan.

“Sebenarnya sudah ada perda terkait perlindungan kawasan penyangga Cagar Alam Cycloop sejak tiga tahun lalu dan telah disosialisasi atau disampaikan di berbagai kesempatan, tapi tidak didengarkan,” kata Mathius di Kota Jayapura seperti dilansir Antara.

Bagi Walhi Papua peringatan yang dilakukan pemerintah setempat tidak cukup, seharusnya pascaperingatan dari otoritas bencana, pejabat terkait di Jayapura segera mengintervensi dengan menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan hukum. 

“Dugaan kami sebenarnya fungsi kontrol dan pengawasan di lapangan, dengan sekali memberi peringatan, mereka percaya masyarakat sudah keluar dan tidak melakukan pembalakan lagi,” ucap Aiesh. 

BNPB mengungkap bahwa kerusakan di Pegunungan Cycloop sudah terjadi sejak tahun 2003. Disebutkan pada tahun itu, tercatat sekitar 43.030 orang atau 753 keluarga merambah cagar alam dengan membuka lahan permukiman dan pertanian lahan kering pada daerah aliran Sungai Sentani. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *