Media Sosial Tingkatkan Depresi di Kalangan Milenial

Media Sosial Tingkatkan Depresi di Kalangan Milenial

Sebuah penelitian mengungkap jika orang yang lebih banyak berinteraksi di media sosial akan lebih mudah menderita depresi. Mengurangi penggunaan ponsel jadi salah satu solusinya.

Interaksi Sosial Berkurang Akibat Penggunaan Media Sosial

Konten.co.id – Sebuah penelitan mengungkapkan bahwa sosial media dapat meyebabkan meningkatnya tingkat depresi di kalangan remaja dan orang dewasa. Zaman sekarang kebanyakan anak muda lebih suka untuk bertukar pesan lewat smartphone daripada berinteraksi sosial dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya.

Profesor psikologi Universitas San Diego, Jean Twenge, Ph.D. menulis sebuah buku tentang label iGen (GenZ) yang berspesialisasi dalam studi perbedaan generasi. Dia mengatakan kemungkinan hubungan antara media digital dan depresi dipengaruhi oleh seberapa lama anak remaja menghabiskan waktu di dunia maya.

Para peneliti mencatat bahwa penggunaan smartphone meningkat di waktu yang sama dengan meningkatnya kejadian depresi remaja.

Twenge dan timnya menganalisis informasi dari hampir 612.000 remaja dan orang dewasa yang berpartisipasi dalam Survei Nasional Penggunaan dan Kesehatan Narkoba. Mereka mencari tren gangguan mood dan perilaku yang berkaitan dengan bunuh diri dari tahun 2015-2017.

Meskipun penelitian sebelumnya telah melaporkan peningkatan dalam depresi remaja dan bunuh diri selama satu dekade terakhir, tetapi Twenge ingin tahu apakah tren itu memengaaruhi semua usia atau hanya anak muda saja.

Para peneliti mencatat bahwa penggunaan smartphone meningkat di waktu yang sama dengan meningkatnya kejadian depresi remaja.

Penelitian lain menunjukkan hubungan antara menggunakan smartphone pada waktu tidur dan kurang tidur yang merupakan salah satu karakteristik gejala depresi. Mereka mengatakan bahwa layar ponsel memancarkan jenis cahaya yang menipu otak untuk dapat berpikir di pagi hari.

Para peneliti juga menemukan seberapa sering frekuensi hubungan sosial secara langsung yang dimiliki orang. Theresa Nguyen mengungkapkan orang-orang yang lebih sering berinteraksi lewat komputer atau smartphone, ketika mereka memasuki dunia kuliah atau kerja mereka menjadi cemas karena menyadari bahwa mereka kurang siap untuk menhadapi dunia nyata yang mana komunikasi verbal menjadi jalan utama untuk berinteraksi.

Smartphone bukan hanya sebuah hiburan semata. Sebagai salah satu cara menuju sosial media, smartphone merupakan alat yang dapat digunakan untuk cyberbullying atau berita-berita hoaks.

Menurut Laura Greenstein, media sosial dapat membuat rasa koneksi yang salah dengan orang lain ketika kenyataannya bahwa orang-orang yang mengikuti akun seseorangb belum tentu teman pribadi. Bahkan ketika anak remaja dan dewasa berkumpul dengan teman-teman, mereka lebih cenderung fokus untuk memposting foto atau video ke media sosial daripada menikmati waktu bersama.

Selain itu, ada rasa ketagihan untuk mengakses media sosial atau kesenangan seseorang untuk melihat aktivitas orang lain yang dibagikan sehingga memicu otak untuk melepaskan dopamin, bahan kimia yang berkaitan dengan keinginan untuk mengulangi perilaku tertentu. Sehingga mereka yang melihat postingan tersebut menimbulkan perbandingan sosial ke arah negatif. Ini membuat Anda merasa ditinggalkan atau dikucilkan saat melihat orang lain di media sosial bersenang-senan

Dilansir dari Healthline, bagi orang tua yang bertanya-tanya apa yang dapat mereka lakukan untuk menjaga anak-anak dari risiko potensial penggunaan smartphones yang berlibahan, para ahli menyarankan untuk:

  • Jauhkan ponsel satu jam sebelum tidur.
  • Batasi penggunaan smartphone hingga dua jam perharinya.
  • Melarang penggunaan smartphone saat makan bersama. Ini adalah satu cara untuk menghiabiskan quality time dengan keluarga.
  • Gunakan aplikasi pelacak waktu yang dihubungkan dengan ponsel anak Anda sehingga Anda dapat mengetahui dan mengontrol berapa lama anak menghabiskan waktunya dengan smartphone.
  • Luangkan waktu untuk bisa berbincang secara tatap muka.

Theresa Nguyen merekomendasikan orang tua untuk menumbuhkan kebiasaan untuk menjadwalkan waktu untuk dapat berinteraksi dengan anak secara eksklusif (satu anak satu hari) tanpa gangguan smartphone. Mungkin orang tua yang berkarir akan merasa kesulitan dengan saran ini, tetapi membangun hubungan yang lebih dalam dengan anak dapat mengetahui bagaimana perasaan anak Anda tentang kehidupan di sekitarnya. Jangan sampai internet mengasuh anak-anak Anda. (RM)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *