Jokowi Wacanakan Bentuk Menteri Ekspor dan Investasi

Jokowi Wacanakan Bentuk Menteri Ekspor dan Investasi

Pemerintah di bawa Presiden Joko Widodo berencana membentuk lembaga Kementerian yang khusus membidangi ekspor dan investasi. Saat ini, Pemerintah tengah membahas wacana tersebut sebagai upaya serius.

Ekonom Menilai Rencana Jokowi Tak Lazim

Konten.co.id – Presiden Joko Widodo wacanakan untuk diadakannya menteri yang khusus membidangi ekspor maupun investasi. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, dilansir VIVA.

Bambang menilai, keinginan presiden tersebut bukan angan-angan belaka. Realisasi pembentukan dua menteri tersebut tinggal menunggu waktu saja.

“Itu tinggal menunggu waktu. Kita lihat dulu tentunya haruskan diperhatikan juga struktur kementerian yang ada sekarang,” kata Bambang.

Menurutnya, alasan Jokowi untuk mengadakan dua menteri tersebut lantaran melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih stagnan di kisaran 5,1-5,2 persen.

Lanjutnya, ekspor dan investasi merupakan faktor kunci yang dapat mendorong ekonomi lebih cepat. Oleh karena itu, bidang tersebut harus dimenej dengan baik.

“Karena itu beliau melihat karena ekspor dan investasi ini dua-duanya adalah tergantung eksternal. Karena ekspor tergantung permintaan dari negara lain, investasi karena kita juga sangat membutuhkan FDI (foreign direct investment) juga butuh kekuatan modal dari negara lain,” kata dia.

Adanya dua menteri tersebut diharapkan bisa menciptakan menteri yang benar-benar fokus mengurusi urusan yang kuat kaitannya dengan sesuatu yang tidak dapat ditopang oleh kemampuan domestik sendiri. Sebab dua sektor tersebut menurutnya sangat tergantung oleh iklim pasar global. 

Menanggapi hal itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Pieter Abdullah menilai, keinginan Jokowi tak lazim yang dilakukan pemimpin suatu negara. Sebab, tak ada satu satupun negara yang mengkhususkan menterinya mengurusi dua sektor itu secara terpisah.

“Enggak lazim, menteri khusus ekspor dan atau investasi. Pertama, enggak ada contohnya di negara lain. Kedua, kalaupun dilakukan tidak akan efektif mendorong ekspor dan investasi,” katanya, saat dihubungi VIVA, Jumat 15 Maret 2019.

Masalah ekspor dan investasi Indonesia kata Pieter, bukan masalah kelembagaan. Melainkan, masalah struktural ekonomi sebagaimana biasanya, yakni seperti penciptaan iklim kemudahan berusaha yang secara profesional dikelola oleh birokrat.

Lanjutnya, perbaikan kualitas ekspor dengan penciptaan industri manufaktur yang memiliki daya saing tinggi seharusnya yang menjadi fokus pemerintah dalam bidang tersebut.

Meski demikian, Piter menilai, pernyataan Jokowi itu bukan ucapan sungguhan yang bakal direalisasikannya. Melainkan, sebatas sindirannya terhadap Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang selama ini tak mampu menggenjot laju investasi secara maksimal.
 
Selain itu, sindiran untuk Kementerian Perdagangan, yang juga tak mampu mencapai target-target ekspor yang sudah ditarget pemerintah sebelumnya.

“Saya enggak yakin, Pak Jokowi serius mau bikin menteri khusus ekspor dan investasi, itu sindiran orang Jawa saja. Pak Jokowi kan orang Jawa, menegur itu seringkali tidak langsung,” tutur dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, realisasi laju ekspor yang berhasil dicatatkan oleh Kementerian Perdagangan pada 2018, memang tidak mencapai target yang dipatok sebelumnya di angka 11 persen, yakni hanya sebesar 6,7 persen.

Sedangkan untuk sektor investasi, BKPM juga mencatatkan bahwa realisasi investasi pada 2018, hanya mencapai 94 persen dari target yang dipatok dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang sebesar Rp721,3 triliun. (ME)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *