Jadi primadona Investor, Ekonomi Indonesia Akan Melesat

Jadi primadona Investor, Ekonomi Indonesia Akan Melesat

Sejumlah ekonom dan praktisi usaha membahas peluang ekonomi Indonesia kedepan. Sejumlah kalangan menilai, ekonomi Indonesia akan mengalami peningkatan di masa depan.

Berikut Alasan Kenapa Ekonomi Indonesia Diyakini Akan Maju

Konten.co.id (Jakarta)  – Indonesia dinilai masih menjadi tujuan utama investasi asing. Hal tersebut menjadi bahasan dalam konferensi yang digelar PT. UBS Sekuritas Indonesia (UBS) pada Selasa (5/2) di Tanjong Rasamala Room, Mandarin Oriental Hotel, Jakarta.

“Inilah mengapa kami mengumpulkan para ahli internasional dan lokal terkemuka untuk memberikan para klien kami wawasan terbaru,” kata Country Head UBS Indonesia, Head of Research UBS Indonesia Joshua Tanja, dilansir IDN Times, Jumat (8/3).

Dalam konferensi tersebut, pembicara dari UBS memaparkan berbagai pandangan terkait prospek ekonomi makro, ekuitas, dan investasi perbankan di Indonesia dan ASEAN selama 2019.

Pertama, membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tren baru dan perkembangan teknologi. Para ahli berbagi pandangan ekonomi dalam UBS Indonesia Conference 2019. Konferensi ini digelar terkait momentum pertumbuhan pada infrastruktur dan konsumen, serta peningkatan teknologi internet di Indonesia.

“Konferensi ini fokus pada perdebatan dan tren yang muncul pada bidang utama dalam ekonomi, yakni infrastruktur, konsumen, dan ekonomi digital.”

Kedua, UBS memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto riil tahun ini 5 persen. Sebagai rumah ekuitas terkemuka di Indonesia, UBS memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil 5% pada 2019 sebagai bentuk konsistensi yang dilihat dalam ekonomi yang stabil.

Selain itu juga UBS mengaku memiliki peran positif pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2019.

“Kami memperkirakan defisit neraca berjalan menyempit, jadi 2,6% dari PDB pada 2019 dari 3% pada 2018. Ini berarti Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap pengetatan kondisi pasar keuangan global,” kata Executive Director dan Senior Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) Economist, UBS Investment Bank, Edward Teather.

Ketiga, semakin positif nilai rupiah, semakin positif pasar ekuitas. Berbicara mengenai pengaruh bagi pasar ekuitas, Joshua Tanja mengatakan, “harga minyak yang rendah, bagus untuk Indonesia. Namun harga yang tinggi, tidak baik untuk Indonesia. Begitu juga dengan rupiah. Semakin positif rupiah, semakin positif untuk pasar ekuitas,” ujarnya.

Keempat, UBS optimistis untuk pasar ekuitas. Ekonomi belakangan ini, khususnya di Indonesia mengalami penurunan. Namun masih ada celah optimistis untuk memajukan pasar ekuitas di Indonesia.

“Masih ada sikap optimisme terhadap pasar ekuitas, Indonesia masih sangat optimistis,” kata Head of Corporate Clients Solutions UBS Indonesia, Agung Prabowo.

Kelima, diharapkan dana lokal di ASEAN maju. UBS juga menyelenggarakan Trading Symposium ASEAN di Indonesia, sebagai bagian dari UBS Indonesia Conference ini. Di dalamnya terdapat berbagai macam ahli dari beberapa Negara, dan lokal untuk saling bertukar pandangan, strategi serta solusi di tengah perdagangan.

“Di UBS, kita harap dana lokal di ASEAN bisa maju dengan institusional investor,” pungkas Director Equities Indonesia, Jerry Sarmiento. (ME)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *