Facebook Larang Iklan Politik yang Didanai Asing

Facebook Larang Iklan Politik yang Didanai Asing

Mendekati hari pencoblosan Pemili 17 April 2019, Facebook mengeluarkan aturan pelarangan iklan politik dari luar Indonesia.

Jelang Pencoblosan, Facebook Batasi Iklan Politik

Konten.co.id – Facebook sudah melarang pemasangan iklan politik dari luar Indonesia jelang pemilihan presiden 17 April 2019.

Pelarangan itu dikeluarkan hanya beberapa minggu setelah Uni Eropa mengkritik keras Facebook karena dianggap tidak berbuat banyak untuk menangkal intervensi dalam Pilpres 2019. Hal itu dilaporkan kantor berita AFP, Selasa (5/3/2019).

Untuk itu Jejaring media sosial terbesar di dunia itu untuk sementara melarang iklan berbayar yang terkait politisi, partai, atau upaya untuk menekan para pemilih, dari para pemasang iklan yang berbasis di luar Indonesia.

“Kami ingin menghambat upaya intervensi pada pemilu di platform tersebut, dan memudahkan masyarakat membuat suara mereka terdengar dengan sah dalam proses politik,” kata Facebook dalam sebuah pernyataan dilansir dari kantor berita AFP, Selasa (5/3/2019).

Facebook menambahkan kebijakan itu akan berlaku mulai Selasa. Awal tahun ini, para pejabat Uni Eropa mengecam Facebook karena tidak cukup bertindak untuk mengamati iklan-iklan pada situsnya menjelang pemilihan Uni Eropa di bulan Mei.

Merespon hal tersebut, Facebook merilis perangkat dan aturan baru yang mewajibkan iklan-iklan politik yang terkait pemilu untuk diotorisasi dan ditandai dengan informasi “dibayar oleh”.

Perusahaan asal AS itu mulai meneliti pengaruhnya pada pemilu setelah pengungkapan pengaruh Rusia pada pemilu AS 2016. Beberapa pemimpin dunia menuduh raksasa media sosial itu terlalu lamban mengambil tindakan.

Facebook mengatakan akan menggunakan kombinasi intervensi otomatis dan manusia untuk menghapus iklan-iklan menyinggung yang berhubungan dengan Indonesia.

Indonesia sendiri tengah berjuang mengatasi gelombang ujaran kebencian yang muncul karena kelompok-kelompok konservatif mengeksploitasi media sosial untuk menyebarkan kebohongan dan menarget kelompok-kelompok minoritas.

Para petinggi di Indonesia dan dunia khawatir materi-materi bernada menghasut yang diunggah melalui daring akan memecah belah kehidupan sosial dan beragama di negara dengan populasi penduduk muslim terbesar didunia ini. Terlebih menjelang pilpres pada April nanti.

Pada Februari, Facebook mengatakan sudah menghapus ratusan akun dan laman yang terkait kelompok siber Indonesia, Saracen. Kelompok tersebut dituduh menyebar ujaran kebencian dan berita palsu.

Selain itu, Facebook juga memiliki kemitraan pengecekan fakta dengan AFP di beberapa negara. (AI)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *