Ekspor Terpuruk, Pemerintah Andalkan Daya beli domestik

Ekspor Terpuruk, Pemerintah Andalkan Daya beli domestik

Anjloknya sektor ekspor domestik berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi. Dalam upaya penguatan, pemerintah andalkan konsumsi domestik.

BI Targetkan 5,4 Persen Pertumbuhan Ekonomi

Konten.co.id (Jakarta) – Bank Indonesia (BI) menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran angka 5-5,4%. Pertumbuhan ini masih akan didorong dengan konsumsi masyarakat yang cukup kuat.

“Konsumsi diperkirakan tetap tinggi, didukung daya beli dan keyakinan konsumen yang terjaga, stimulus fiskal yang berlanjut khususnya melalui belanja sosial, serta belanja terkait persiapan pemilu. Maka dari itu, untuk triwulan I 2019 kami perkirakan akan tetap kuat yang ditopang permintaan domestik,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko , dilansir warta ekonomi, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Untuk sektor investasi diproyeksi akan sedikit melambat pada triwulan I 2019. Hal ini diakibatkan pola musiman awal tahun dan diprakirakan kembali menguat pada triwulan-triwulan berikutnya yang didukung proyek infrastruktur.

Kondisi serupa diprediksi terjadi juga pada ekspor yang akan menurun sejalan dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan menurunnya harga komoditas. Penurunan ekspor terjadi di kelompok pertanian dan pertambangan, serta beberapa komoditas di kelompok barang manufaktur.

“Ke depan, di tengah prospek ekspor yang menurun, bauran kebijakan BI, pemerintah, dan otoritas terkait akan terus diperkuat guna menopang permintaan domestik dan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Onny menambahkan, pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat disertai ketidakpastian pasar keuangan yang berkurang.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh melambat dipengaruhi berkurangnya stimulus fiskal, menurunnya produktivitas tenaga kerja, dan melemahnya keyakinan pelaku usaha.

Pertumbuhan ekonomi Eropa diprakirakan melambat, hal itu dipengaruhi turunnya ekspor akibat permintaan dari China yang terbatas, melemahnya keyakinan usaha, dan berlanjutnya ketidakpastian penyelesaian masalah Brexit.

Ekonomi China diprediksi tumbuh melambat dipengaruhi tertundanya stimulus fiskal dan belum meredanya ketegangan hubungan dagang dengan AS. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, harga komoditas global, termasuk harga minyak dunia, juga menurun.

Respons normalisasi kebijakan moneter di negara maju cenderung tidak seketat perkiraan semula sehingga ketidakpastian pasar keuangan global berkurang.

“Perkembangan ekonomi dan keuangan global tersebut di satu sisi memberikan tantangan dalam mendorong ekspor, namun di sisi lain lebih positif bagi aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” pungkasnya. (ME)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *