Ekonomi AS Melempem, Ekspor Indonesia Bisa Terdampak

Ekonomi AS Melempem, Ekspor Indonesia Bisa Terdampak

Melemahnya pertumbuhan ekonomi di Amerika membuat optimisme para ekonom disana pudar. Jika ekonomi AS melambat, hal tersebut berpotensi memberi dampak pada melemahnya ekspor Indonesia.

Ekonomi AS Lesu, Ekspor Indonesia Bisa Terganggu

Konten.co.id – Prospek pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS) saat ini semakin suram. Dilansir CNBC Indonesia, ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan melambat hingga tahun 2020.

Para ekonom dari Asosiasi Nasional untuk Ekonomi Bisnis (NABE) dalam laporan triwulanan mereka yang dirilis Senin (25/3/2019), pertumbuhan ekonomi disana hanya 2%.

Akibat dari kondisi ekonomi AS, pasar saham Indonesia pun berpotensi tertekan dalam jangka waktu yang cukup lama seiring dengan perkembangan terbaru yang terjadi di AS.

Meski untuk sementara ini proyeksi resesi pada tahun 2020 tetap rendah, namun kemungkinan itu terus meningkat, kata mereka, dikutip CNBC dari AFP.

Resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal atau lebih berturut-turut.

Tanda-tanda resesi di AS bahkan sudah muncul dari pasar obligasi pemerintah Negeri Paman Sam, di mana yield surat utang tenor 3 bulan lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun.

Yield dua seri obligasi ini sering dijadikan alat untuk mengukur risiko terjadinya resesi. Ketika terjadi inversi (yield jangka pendek lebih tinggi dibandingkan jangka panjang), maka kemungkinan akan terjadi resesi setidaknya sampai 18 bulan ke depan.

Berdasarkan hasil survey terhadap 55 ekonom NABE, para panelis menyebut peluang resesi mulai tahun 2019 adalah sekitar 20%, dan untuk tahun 2020 sebesar 35%, sedikit lebih tinggi daripada perkiraan di Desember.

Panelis melihat pertumbuhan upah sebagai penyebab meningkatnya risiko terbesar bagi perekonomian, meskipun diperkirakan hanya tumbuh 3% tahun ini, karena inflasi tetap di sekitar target 2% The Fed.

Sementara itu, di tengah kebijakan bea impor agresif Presiden Donald Trump, panel memproyeksikan defisit perdagangan akan naik ke rekor US$ 978 miliar tahun ini, mengalahkan rekor tahun lalu yang sebesar US$ 914 miliar.

Akibat dari kondisi ekonomi AS, pasar saham Indonesia pun berpotensi tertekan dalam jangka waktu yang cukup lama seiring dengan perkembangan terbaru yang terjadi di AS.

Resesi di AS terakhir kali terjadi pada tahun 2007 hingga 2009. Pada tahun 2007, ekonomi AS hanya tumbuh sebesar 1,88%, jauh melambat dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,85%. Pada tahun 2008 dan 2009, perekonomian AS terkontraksi masing-masing sebesar 0,14% dan 2,54%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia turun ke level 6,01% pada tahun 2008, dari sebelumnya 6,35% pada 2007, sebelum kemudian melandai lagi ke level 4,63% pada tahun 2009.

Saat AS mengalami resesi, maka permintaan atas produk-produk buatan Indonesia akan berkurang karena memang aktivitas ekonomi di sana lesu.

Penurunan ekspor ke AS akan berpengaruh pada tertekannya laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Hal itu lantaran turunnya kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan. (ME)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *