Dilan Sang Pembuat Polemik

Dilan Sang Pembuat Polemik

“Cita-citamu apa sih?” tanya Dilan.
Milea pun menjawab. “Pilot. Kalo kamu?”
“Menikah sama kamu”.
Salah satu kutipan gombal Dilan yang bikin kaum hawa terbuai.

Mulai Pemilihan Aktor Hingga Kontroversi Pojok Dilan

Sukma Nurrizki
Oleh: Sukma Nurrizki

Sineas Indonesia tengah kembali diramaikan oleh kehadiran sekuel film box office, Dia Dilanku 1991. Film tersebut merupakan lanjutan dari film pertamanya yang berhasil meraup kesuksesan fantastis, yakni menyentuh angka delapan juta penonton.

Film Dilan sendiri diadaptasi dari serial novel karya Pidi Baiq dengan judul yang sama. Setelah sukses membuat para penikmat kata-kata terhipnotis oleh sosok remaja yang diceritakan sebagai anggota geng motor tersebut.

Sebagai penulis, lelaki yang kerap disapa Ayah Pidi itu akhirnya memutuskan untuk mengangkat karya fenomenalnya ke layar lebar. Hingga memasuki paruh kedua tahun 2018, film pertamapun secara resmi diputar oleh seluruh Bioskop Indonesia.

Menilik antusiasme masyarakat dan pecinta film tanah air, Dilan sendiri memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sosoknya begitu ikonik dan berhasil menjadi gambaran remaja tahun 90-an.

Berkat itu pula, kontroversi mulai lahir bahkan sejak pemilihan cast, banyak penggemar novelnya yang protes dan menyatakan bahwa Iqbaal Dhiafahkri Ramadhan tidaklah pantas memerankan sosok Dilan.

Sampai kemudian Iqbal berhasil membuktikan kemampuan aktingnya, hingga membungkam ketidaksetujuan warganet.

Setelah filmnya rilis, meskipun sangat membanggakan perfilman tanah air. Nyatanya Dilan kembali menarik pro dan kontra. Terkhusus sekuelnya yang saat ini masih tayang di layar Bioskop.

Dilan 1991 mengundang kritikan ketika sebagian penonton merasa bahwa film tersebut memberikan dampak negatif dan sama sekali tidak menginspirasi bagi kaum remaja. Padahal, dalam novelnya sendiri sudah sejak awal ditampilkan adegan yang mengundang kritikan netizen, yakni ketika Dilan mencium Milea, atau saat Dilan berseteru dengan Guru BP-nya.

Sebagian warganet menganggap hal tersebut merupakan tindakan tidak terpuji dan justru akan rawan menjadi contoh bagi kalangan remaja saat ini.

Belum usai sampai di sana, Dilan juga masih harus menghadapi kecaman netizen kala Gubernur Jawa Barat , Ridwan Kamil, mengapresiasi karya Pidi Baiq dengan merealisasikan sudut Dilan di kawasan Taman Saparua, Bandung.

Banyak warganet yang menyayangkan keputusan Kang Emil perihal diresmikannya sudut Dilan. Mereka menilai bahwa masih banyak sosok inspiratif yang layak diapresiasi dengan dibuatkan tempat semacam itu.

Melansir dari media bandung.com pada 1 Maret 2019, Kang Emil melalui akun sosial medianya menyatakan, bahwa peresmian pojok Dilan dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis yang karyanya mendapat predikat mega best seller, sekaligus Box Office ketika sudah difilmkan.

Orang nomor satu di Jawa Barat itu juga turut menambahkan, bahwa “Sudut Dilan merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan bagi komunitas milenial yang rajin membaca novel, sastra, dan menikmati film”.

Terlepas dari polemik ditengah eksistensi sosok Dilan. Setidaknya Indonesia sudah mulai berada dalam titik terbaik. Di mana kaum remajanya yang meskipun hanya minoritas, mereka pada akhirnya kian membuka diri pada dunia literasi dan menghargai industri perfilman Indonesia.

Penulis adalah mahasiswa Jurnalistik Fikom Universitas Garut.

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *