fbpx

Awalnya Dipakai Melucu, Kini Hoax Jadi Ancaman Menakutkan

Awalnya Dipakai Melucu, Kini Hoax Jadi Ancaman Menakutkan

Hoax pertama kali muncul tak untuk menakuti, tapi dipakai sebagai media hiburan. Berita bohong yang disebarkan, hanya untuk menghibur.

Inggris Jadi Penyebar ‘Hoax’ Pertama di Dunia

Konten.co.id – Hoax dalam bahasa Inggris atau hoaks dalam bahasa Indonesia merupakan berita bohong atau berita yang belum jelas sumber informasinya. Hoaks juga tak dapat dipertanggungjawabkan.

Menkopolhukam, Wiranto sempat menyebut jika penyebar hoax bisa dikenakan pidana dengan UU terorisme. Pernyataan itu sempat menimbulkan pro dan kontra.

Mulanya hoax digunakan untuk melucu atau sengaja membingungkan penerima informasi dengan maksud bercanda. Informasi hoax dulunya bisa disejajarkan dengan candaan April Mop.

Namun bagaimana sejarah hoax berasal. Berita bohong tak hanya ada di masa sekarang. Sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, hoax sudah muncul. Kata hoax mulai dipakai di Inggris pada abad ke-18 seperti yang tercantum dalam buku “A Glossary: Or, Collection of Words, Phrases, Names dan Allusions to Customs”, karangan Robert Nares.

Mulanya hoax digunakan untuk melucu atau sengaja membingungkan penerima informasi dengan maksud bercanda. Informasi hoax dulunya bisa disejajarkan dengan candaan April Mop.

Namun seiring berkembangnya zaman, hoax menjadi kabar bohong yang agak serius. Pada musim panas tahun 1996, Alan Sokal seorang profesor fisika di New York University menggunakan hoax untuk menguji standar intelektual akademisi humaniora di Amerika Serikat.

Alan Sokal mengirimkan tulisan yang berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” yang berisi argumen dan fakta palsu ke jurnal Social Text.

Beberapa minggu setelah paper Sokal terbit, Alan Sokal menulis esai berjudul “Physicist Experiments with Cultural Studies” yang terbit di jurnal Lingua Franca pada 15 April 1996. Dalam esainya, Sokal membeberkan bahwa papernya yang terbit di Social Text itu hanyalah parodi dan digunakan untuk mengejek para pemikir postmodern. Di kemudian hari insiden ini semakin dikenal dikalangan publik akademisi dengan nama hoax Sokal.

Sementara di Indonesia, hoax mulai sering didengarkan setelah media sosial aktif digunakan masyarakatnya. Terlebih di Pemilu kali ini. Informasi hoax mudah ditemukan.

Pernyataan hoax dari Wiranto bisa dipidanakan ada benarnya. Namun tak harus menggunakan UU terorisme jika tak mengancam keutuhan negara. Ada UU ITE yang bisa dipakai menjerat penyebar hoax. (FW)

Ahmad
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *