A Wonderful Day di Kuil Confucius Shandong China

A Wonderful Day di Kuil Confucius Shandong China

Dari perjalanan saya dapatkan hal-hal baru yang pastinya memperkaya batin dan pengetahuan. Demikian pula dengan perjalanan saya saat mengikuti School Leadership and Supervisor Training Program di China.

Menyusuri Kuil Confusius Pembawa Ajaran Kong Hu Cu

Oleh: Lilis Irianti, S.Pd, M.A,

Hari ini Kamis 14 Maret 2019, tepat pukul 04.00 waktu Nanjing alarm hand phoneku berbunyi, kusibakkan selimut hangat untuk melakukan streching kecil dan secepatnya meluncur ke kamar mandi. Teringat pesan Mbak Alma salah satu pembimbing kami yang mengingatkan peserta diklat untuk tepat waktu berkumpul pukul 06.00 pagi.

Dengan suhu di luar mencapai 7 derajat celcius kubergegas mandi, menunaikan salat subuh, berpakaian tiga lapis seperti biasanya dan gendongan di punggung kukenakan. Terus berkemas dan menuruni empat lantai ke bawah menuju restoran halalku untuk sarapan pagi.

Sambutan supervisor resto yang super stylish dan trendi menyapa ramah kami dengan bahasa China yang kuperkirakan sebagai sapaan selamat pagi. Di sudut kanan depan resto telah berderet kawan-kawanku untuk mengambil sarapan.

Dengan sedikit bantuan pahlawan lidahku selama di China, abon ma Icih dan sambel kering dari kampung kutaburkan pada sepiring nasi goreng yang istiqomah selalu tersaji di pagi hari. Berikut dua telor dadar menjadikan energiku untuk bersiap melaksanakan aktivitas short courseku pada hari ini.

Jadwal yang tertulis pada handbook menuliskan aktivitas hari ini yaitu Culture Experience Confucious Family Mansion, Temple and Cemetery, sepertinya kami akan melaksanakan kunjungan ke sebuah candi atau semacam kuil.

Di depan kampus telah menunggu nona Katty yang ramah untuk segera memasuki bus rombongan, ada dua bus tersedia untuk kelas China 1 dan China 2. Program leader ternyata membawa kami ke daerah Shandong yang jaraknya bisa ditempuh sekitar 3 jam perjalanan bus dari kampus Nanjing, sama halnya seperti perjalanan Ciamis-Bandung kalau di Indonesia.

Sepanjang perjalanan kami melihat sederetan pohon-pohon kering yang nampak belum berdaun dan berbunga karena musim semi belum berlangsung, hamparan lahan hijau yang luas dan sederetan lahan terbungkus plastik putih yang kukira itu adalah tanaman strawberi.

Setiba di Shandong kami disambut oleh seorang lelaki berbahasa Inggris yang fasih berdialek China ramah menyapa dan memberikan pengarahan tentang kunjungan ke kuil Konfucius.

Hal pertama yang menjadi surprise bagi semua rombongan adalah pembagian seragam hitam seperti model kimono dengan garis merah di pinggiran baju, sabuk merah dan satu set perangkat alat penerima suara yang tujuannya sebagai pemandu agar kami selalu mendengarkan arahan dan berbagai info guide dan tidak tersesat.

Selesai digunakan kami semua merasakan ada sesuatu yang lain, semacam daya magis untuk lebih memaknai kunjungan suci ke kuil Konfucius sangat terasa. Hal pertama dan seterusnya yang sering terdengar dari sang guide adalah follow me, dan kalimat itu disebutkan berulang-ulang, sehingga selalu menjadi bahan candaan ringan sepanjang perjalanan dengan teman-teman.

Tibalah kami di gerbang masuk kuil, dengan mendengarkan segala keterangan guide kuambil kesimpulan yaitu:

Di daerah Qufu Shandong terdapat rumah bagi tiga situs bersejarah yang letaknya saling terpisah namun masih menyatu menjadi sebuah komplek besar antara lain rumah keluarga Kong, komplek kuil Kong dan Kuburan Kong. Kuil dan mansion terletak berdekatan satu sama lain, sementara kuburan terletak satu kilometer ke arah utara.

Kuil Confusius di Nanjing adalah tempat untuk menyembah dan menyucikan Konfucius, seorang filsup dan guru besar jaman Tiongkok Kuno. Ia juga dikenal sebagai Fuzimiao dalam bahasa China.

Confucius adalah nama seorang yang berkebangsaan Tiongkok, berasal dari nama latin yaitu K’ung Futse. Ia dilahirkan di negara Lu pada tahun 551 SM. Confucius mempunyai jalur keturunan dari bangsawan kuno dan hidup dalam keadaan menderita.

Ia menempuh hidup berkeluarga pada waktu masih muda, kemudian ia bekerja sebagai pegawai. Confucius dapat dikatakan sebagai seseorang yang berhasil dalam menangani bidang pendidikan maka ia mendapat sebutan sebagai guru.

Pemikiran Confucius, banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan. Pemikirannya sering dianggap doktrin agama oleh para pengikutnya. Kebahagiaan dalam ajaran ini adalah meniadakan kebutuhan material dan rasional.

Berbeda dengan Aristoteles yang berpendapat, kebahagiaan merupakan tujuan manusia yang dapat dicapai apabila menjalankan fungsi khasnya sebagai makhluk rasional. Manusia akan merasa bahagia apabila ia menjalankan hidup dengan segenap keutamaan rasio.

Menurutnya hidup yang sempurna lebih bersifat rasional dan material. Bisa dilihat dari semua hal yang baik seperti kesehatan, kekayaan, persahabatan, pengetahuan, dan kebajikan. Jadi kebahagiaan dalam perspektifnya adalah sesuatu hal yang final dan mencukupi sendiri secara kasat mata.

Upaya meraih kebahagiaan merupakan proses terus-terusan mengumpulkan kebaikan, ability, kepandaiaan, kepiawaian, kehormatan, kecantikan dan persahabatan.

Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur.

Kong Hu Cu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: “Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut”.

Meskipun orang kadang mengira bahwa Kong Hu Cu merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentan, Ru Jiao atau Agama Kong Hu Cu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Kong Hu Cu (Ru Jiao) juga terdapat ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya.

Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut “Ren Dao” dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah “Tian” atau “Shang Di”.

Awalnya, kuil ini dibangun pada tahun 1034 di Dinasti Sog (420-589), kuil ini mengalami kerusakan dan telah beberapa kali dibangun kembali. Tahun 1937 adalah kehancuran terbesar saat dibakar dan dihancurkan oleh para penyerang Jepang. Pada tahun 1984 candi ini dibangun kembali di bawah dukungan pemerintah setempat.

Selama proses yang panjang bangunan aslinya diperluas menjadi kompleks dengan gaya arsitektur Dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911), termasuk kuil Konfusius Nanjing sendiri, Musium Pemeriksaan Kekaisaran China dn Xue Gong (Akademi Kekaisaran).

Komplek ini masih disebut kuil Konfucius karena kebiasaan penduduk setempat dan para pengunjung yang datang. Di depan kuil nampak mengalir sungai Qin Hual, di tepi selatan sungai, ada pekarangan yang sangat panjang dengan tumbukan bata sepanjang sekitar 110 meter.

Di bagian dalam kuil terdapat aula besar bernama Dancheng dengan ornamen yang mencapai tinggi 16,22meter, selebar 30 meter yang di dalamnya berisi koleksi-koleksi berbagai macam giok gosokan sebanyak 3000 keping, patung Konfucius, patung marmer putih dan juga tulisan tangan dan prasasti puisi terkenal dari Lu J, Huang Tingjian.

Selang beberapa saat kami disuguhi dengan pertunjukkan semacam persembahan agama mereka, formasi teraur rapi selama pertunjukkan, penyalaan lidi hio, membacakan semacam ikrar, tiupan terompet panjang dan dentuman genderang China terasa sangat bermakna dan menarik.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 200 meter menuju Mansion yang menjadi rumah bagi selir-selir Konfucius. di sekitar kuil Konfucius Nanjing berderet serangkaian toko wisata, bar makanan ringan, restoran da kafe teh.

Semua bangunan nampak dalam gaya arsitektur gaya Ming dan Qing. Berbagai makanan ringan dapat dibeli disini, saya sendiri ikut-ikutan tergiur melihat teman dan mencoba membeli semacam penganan yang nampak dari kejauhan seperti kue moci dengan tampilan kotak warna warni pastel muda bertaburkan tepung putih, dan ternyata setelah dicicip tidak jauh berbeda dengan permen kenyal namun alot dan awet lengket di mulut sangat manis.

Hal ini menjadi bagian penting dari budaya makanan di Nanjing. Ada taman Bailuzholl, berbeda dengan lokasi lainnya yang ramai lokasi ini begitu tenang dan damai, cocok sekali untuk orang yang ingin mencari ketenangan.

Guide memberikan waktu kepada kami untuk berkeliling dan sekaligus melihat pertunjukan opera China, seorang nyonya tua berdandan riasan tebal melantunkan semacam lagu dengan suara melengking dan intonasi naik turun membuat kami terkesan karena bisa menonton opera itu secara langsung walaupun hanya berdurasi pendek, kusempatkan mecuri-curi waktu untuk pengambilan poto, sebagai bahan kenangan kami sudah bisa menginjakkan kaki di kuil Konfucius yang sangat terkenal ini.

Selesai itu rombongan diajak untuk mekan siang, diluar dugaan guide ternyata membawa kami berjalan lumayan jauh dari lokasi Mansion menuju restoran, hal menggelikan saat setiap kali dari kami menanyakan berapa jauh jarak untuk berjalan, jawabannya selalu 100 meter didepan, padahal kaki kami telah melangkah lebih dari 100 meter sebelumnya. Restoran di lantai dua tempat mengenyangkan lapar dan dahaga tersaji berbagai jenis menu Cina yang halal.

Ada perasaan haru yang membuatku terhenti manakala suapan kedua kulumat persis depan meja teman seperjalanan kami menangis setelah membuka handphonenya, ternyata dia telah mendapat kiriman poto pemakaman orangtuanya yang meninggal di tanah air, secepat kilat kami menundukkan kepala berdo’a untuk almarhum dan kucoba mengusap-usap punggung bu Rosita sahabatku dari Banjarmasin untuk selalu berbesar hati, tabah, ikhlas, berserah diri padaNya dan melanjutkan kegiatan short course ini sampai dengan selesai.

Selesai makan siang rombongan kembali menuju bis yang telah lama menunggu kami untuk segera kembali ke Nanjing, kunjungan indah dan berkesan dan 1327 langkah kaki di smart watchku menjadikan 3 jam perjalanan pulang menuju kampus dengan kompak tertidur pulas dan bermimpi sepanjang jalan, terimakasih Kemendikbud, terimakasih Indonesia, dan terimakasih Tuhan yang telah menambah literasiku hari ini.

Semoga perjalanan ini menjadi hikmah dan membawa berkah saat kembali melaksanakan tugas kepengawasanku nanti di tanah air, sebagai ajang pemberian motivasi kepada guru-guru di sekolah binaan untuk selalu meningkatkan kompetensi sebagai pendidik yang up to date sepanjang waktu.

Penulis adalah pengawas SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis juga aktif sebagai Tim Pengembang dalam beberapa penulisan modul pada Ditjen GTK Kemendikbud sejak tahun 2016. Terpilih dalam seleksi untuk mengikuti kegiatan short course di China dengan biaya Kemendikbud 27 Februari-25 Maret 2019.

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *