Virus Rabies Menyebar di Dua Kabupaten di NTB

Virus Rabies Menyebar di Dua Kabupaten di NTB

Dua Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah terpapar virus rabies.

NTB Waspada Rabies, 5 Orang Meninggal Dunia

Konten.co.id (NTB) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan status waspada terkait penyebaran virus rabies. Sampai saat ini telah terjadi 527 orang terpapar rabies dan 5 orang meninggal dunia.

Virus rabies awalnya ditemukan di Kabupaten Dompu kini menyasar Kabupaten Sumbawa. Sejak awal tahun 2019, Pemerintah Provinsi NTB berupaya menutup potensi berkembangnya virus lewat gigitan anjing ini. Namun, pada kenyataannya penyebaran virus rabies masih tergolong tinggi.

“Informasi pagi ini, Sumbawa sudah positif ada ditemukan rabies,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi NTB Hj. Budi Septiani, Jumat (8/2/2019).

Kasus ini, kata dia, sangat mengejutkan. Pasalnya, Provinsi NTB selama ini dikenal sebagai daerah bebas rabies. 

“2017 NTB berstatus bebas rabies. Kita lengah, lupa antisipasi. Sehingga begini sekarang,” katanya.

Apa yang terjadi di Dompu, kata dia, membuat masyarakat NTB tersadar tentang pentingnya kewaspadaan akan penyakit menular yang disebabkan oleh hewan (zoonosis). Rabies, ungkap dia, bukanlah penyakit baru di Indonesia. 

“Sampai hari ini, ada 2.217 ekor anjing yang divaksin dari populasi 9 ribuan. Anjing liar lebih banyak, itu yang kita waspadai. Karena bisa berjalan kemana-mana,” katanya, dilansir dari Radar Lombok.

Dalam waktu dekat, Budi mengaku akan melakukan koordinasi dengan Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) baik di tingkat pusat maupun provinsi untuk membantu melakukan pengendalian populasi HPR. Data yang dimiliki Disnakkeswan, jumlah korban yang telah diberikan VAR sebanyak 465 orang dan 6 orang diantaranya diberikan Serum Anti Rabies (SAR). 

Jumlah HPR yang telah diberikan vaksin rabies sebanyak 1.655 ekor. Untuk kondisi di Pulau Lombok, saat ini statusnya siaga. 

Beberapa kasus gigitan memang telah terjadi di Pulau Lombok. Misalnya kasus di Kabupaten Lombok Timur pada tanggal 22 Januari 2019. Dari hasil pemeriksaan, dinyatakan negatif. 

Penularan rabies tidak hanya berasal dari anjing tapi bisa juga dari kucing, kera, kelelawar, rakun dan musang. Jadi masyarakat diharapkan berhati-hati jika bersentuhan dengan binatang ini.

Begitupun dengan kasus kematian anjing di daerah Kuta Lombok Tengah pada tanggal 30 Januari 2019. Kemudian kasus di Kota Mataram, semuanya negatif. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi mengatakan, jumlah kasus gigitan anjing dari bulan Agustus 2018 hingga saat ini sebanyak 527 kasus.Selain itu, ada 5 orang meninggal dunia di Dompu karena rabies.

Apabila ada yang digigit anjing, lanjutnya, Eka menyarankan agar segera dicuci bekasnya. Hal itu harus dilakukan minimal 15 menit dengan menggunakan sabun batangan dengan air mengalir. 

Setelah itu, barulah dilakukan perawatan luka dan suntikan vaksin. Dengan begitu akan membunuh virus rabies hingga 80 persen. 

Jangka waktu dari infeksi oleh virus hingga munculnya gejala-gejala pertama, rata-rata dari 35 ke 65 hari. Gejala-gejala pertama dapat berupa gejala umum seperti demam, sakit kepala, dan merasa letih. Kemudian bisa kehilangan nafsu makan, mual, rasa sakit atau mati rasa di area yang digigit dapat berlangsung selama 3-4 hari pertama.

Sistem saraf juga terganggu. Orang yang digigit menjadi gelisah dengan hiperaktivitas yang ekstrem. 

Korban akan mengalami kejang otot semu dan kelumpuhan juga mungkin terjadi. Ketakutan akan air tiba-tiba muncul di tahap ini. 

Apabila rabies tidak diobati segera setelah terekspos, hampir selalu akan berujung ke koma, kejang, dan kematian. (MHI)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Satire

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Berita Video

Berita pilihan