Menilik Kampung Tunarungu di Bali

Menilik Kampung Tunarungu di Bali

Jumlah penderita tunarungu di desa ini cukup tinggi. Prevalensinya bahkan 15 kali lebih tinggi dari prevalensi global.

Kelainan Genetis Jadi Penyebab Tingginya Kasus Tunarungu

Konten.co.id (Bali) – Warga di Desa Bengkala, Kabupaten, Bali awalnya mempercayai jika dewa murka kepada penduduk di wilayah tersebut. Akhirnya sejumlah warga mengalami tunarungu-wicara.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, dewa tunarungu yang berada di kuburan marah. Sejumlah warga pun akhirnya menderita tunarungu.
Namun mitos itu akhirnya terpatahkan. Tunarungu yang dialami sejumlah warga Desa Bengkala memiliki penjelasan ilmiah.

Prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) di Desa Bengkala cukup tinggi. Bahkan 15 kali lebih tinggi dari prevalensi global.

Dikutip dari DW.com, angka kelahiran tunarungu di desa tersebut cukup tinggi. Akibatnya banyak warga mempercayai mitos jika dewa murka.
I Ketut Kanta, Ketua Paguyuban Janger Kolok Bengkala, mengatakan mulanya ia percaya dengan adanya mitos tersebut. Namun dari penelitian, faktor penyebab tunarungu bisa terjawab.

“Penelitian ilmiah menunjukkan, jika kasus tunarungu-wicara disebabkan kelainan genetis,” ucapnya.

Kelainan genetis yang dimaksud, lanjutnya, adanya pernikahan sedarah yang dilakukan di wilayah tersebut. 

Diduga pernikahan antar keluarga dekat menjadi penyebab banyaknya tunarungu.

“Ada 12 Kepala Keluarga (KK) yang mengidap gangguan bisu dan tuli. Jumlah jiwanya ada 42 individu yang dilahirkan bisu-tuli,” katanya.

Tingginya persentase penderita gangguan pendengaran di Bengkala disebabkan oleh sebuah gen resesif yang endemik bernama DFNB3, yang terdeteksi di Bengkala dalam rentang tujuh generasi terakhir.

Beberapa tahun lalu tim peneliti dari Michigan University, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udaya meneliti terkait DNA orang kolok di Desa Bengkala.

Dari penelitian tersebut terungkap adanya keistimewaan pada gen. Khususnya kromosom ke 17 warga setempat. Terbukti, sebab beberapa keluarga pasangan kolok, memiliki anak yang menderita bisu tuli juga.
Tunarungu di Bengkala disebut dengan Kolok. Warga pun menggunakan bahasa isyarat yang disebut omong kolok.

“80 persen warga desa di sini bisa pakai omong kolok. Soalnya banyak yang tuna rungu. Aktivitas komunikasi sehari-hari memakai bahasa isyarat,” katanya.

Bahasa kolok juga diajarkan di sekolah umum. Hal itu untuk memudahkan setiap warga untuk berkomunikasi. (FW)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *