Malpraktik Mengajar Merusak Generasi Bangsa

Malpraktik Mengajar Merusak Generasi Bangsa

Guru harus memerhatikan metode pengajarannya agar tak melakukan malpraktik mengajar. Metode pembelajaran pun harus terus diasah agar menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Satu Generasi Bisa Terkena Dampak Malpraktik Mengajar

Oleh Budi Suhardiman

Konten.co.id – Istilah malpraktik biasanya ditemukan pada dunia kedokteran, yang artinya tindakan dokter yang salah dalam mendiagnosa dan mengobati pasen. Kesalahan itu disebabkan keteledoran dalam menjalankan tugas profesionalnya. Akibatnya, pasien merasa dirugikan bahkan bisa jadi jiwanya terancam. Oleh karena itu, keluarga pasien mengadukan tindakan dokter tersebut pada pihak yang berwajib agar diproses secara hukum. 

Begitu pula ketika ada hakim yang salah dalam menjatuhkan hukuman, keluarga terdakwa langsung memprotesnya. Pada akhirnya, baik dokter maupun hakim dijebloskan ke dalam tahanan dengan kurungan sekian tahun sesuai dengan tingkat kesalahannya.

Guru sebagai tenaga profesional sebagaimana halnya seorang dokter dan hakim, bisa saja dalam menjalankan tugasnya melakukan malpraktik pembelajaran. Malpraktik tersebut bisa dalam hal merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran. Namun ketika ada guru yang melakukan malpraktik pembelajaran, belum pernah dilaporkan orang tua atau siswa kepada yang berwajib.

Padahal, ketika guru melakukan malpraktik yang dirugikan tidak hanya seorang, tetapi banyak orang bahkan akan berdampak pada satu generasi. Jauh lebih berbahaya daripada dokter dan hakim. Generasi bangsa ini akan rusak jika hari ini guru melalukan malpraktik mengajar. Sementara, dokter melakukan malpraktik, yang dirugikan hanya seorang. Begitu pula hakim yang melalukan kesalahan dalam menjatuhkan hukuman, yang didolimi hanya satu orang.

Lalu mengapa ketika ada guru yang melakukan malpraktik mengajar tidak pernah disentuh secara hukum? Bahkan tidak pernah mendengar ada orang tua melaporkan guru gara-gara melakukan malpraktik mengajar kepada anak-anaknya. Guru merupakan jabatan profesional yang menuntut keahlian metodologi dan penguasaan substansi bahan ajar seperti halnya dokter harus memiliki kompetensi dalam mendiagnosa dan mengobati pasien.

Oleh karena itu, jika guru melalukan malpraktik mengajar, menurut penulis, di masa yang akan datang bisa saja dilaporkan orang tua siswa kepada yang berwajib karena dianggap sudah merusak masa depan anaknya. Bisa saja guru dihukum gara-gara malpraktik mengajar.

Pada saat ini mengapa tidak ada orang tua yang protes ketika guru melakukan malpraktik? Setidaknya ada lima alasan. Pertama, anak tidak pernah melapor kepada orang tuanya bahwa gurunya melakukan kesalahan dalam mengajar.

Kedua, orang tua tidak pernah peduli terhadap pembelajaran yang dilakukan guru.

Ketiga, malpraktik mengajar dianggap tidak akan berpengaruh apa-apa pada perkembangan pendidikan anak. Keempat, tidak adanya komunikasi yang intensif antara orang tua dengan sekolah. Kelima, orang tua terlalu percaya kepada sekolah dalam melaksanakan pendidikan putra-putrinya.

Malpraktik mengajar disebabkan oleh beberapa hal, (1) pemahaman guru terhadap filsafat pendidikan masih kurang, (2) pengetahuan guru tentang prinsip-prinsip pembelajaran minim, (3) penguasaan guru terhadap bahan ajar masih kurang, (4) pengawasan dari kepala sekolah dan pengawas pembina belum maksimal, (5) guru terlena dengan kebiasaan lamanya, yang terkadang kebiasaan lama itu sudah tidak sesuai lagi, (6) guru bersifat tertutup terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Filsafat pendidikan sebagai dasar atau landasan guru dalam menjalankan tugas profesionalnya sangat penting. Filsafat pendidikan akan memberi arah kepada guru ketika melakukan pembelajaran. Penguasaan guru terhadap filsafat pendidikan terintegrasi dengan mata pelajaran yang diampunya ketika mereka belajar di LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan).

Namun kenyataan di lapangan, masih ada guru yang latar belakang pendidikannya berbeda dengan mata pelajaran yang diampunya. Hal ini jelas penguasaan guru yang bersangkutan terhadap filsafat pendidikan sangat kurang.

Pengalaman penulis ketika melakukan supervisi pembelajaran, guru masih lemah dalam hal membuka, menyajikan, dan menutup pembelajaran. Padahal ketiga hal ini merupakan inti dari pembelajaran di kelas. Jika guru mampu melaksanakan ketiga hal tersebut dengan baik, maka pembelajaran bisa dikatakan berhasil. Sebaliknya, jika tidak mampu melaksanakannya, maka pembelajaran tidak berhasil, sehingga tujuan pembelajaran akan sulit dicapai.

Pengawasan pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah dan pengawas pembina sebaiknya dilakukan secara terus menerus, tidak hanya melalui supevisi. Kepala sekolah atau pengawas bisa saja melakukan diskusi terbatas dengan guru mata pelajaran untuk membicarakan pembelajaran yang telah mereka lakukan. Bisa juga dengan cara menyediakan angket tentang pelaksanaan pembelajaran yang harus diisi oleh siswa. Dari angket itu akan terlihat gambaran pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru tersebut.

Guru-guru kita terlalu asyik dengan kebiasaan lamanya. Mereka marasa nyaman dengan kebiasaan lamanya itu. Saking asiknya tidak mau diganggu dengan hal-hal yang baru, yang menurut pandangan mereka akan membuat tidak nyaman.

Kebiasaan lama itu misalnya, bahan ajar hanya mengandalkan buku teks (tidak bervariasi), pembelajaran monoton, guru memposisikan diri sebagai narasumber, model ceramah selalu mendominasi pada setiap pembelajaran, guru menyuruh anak untuk mencatat bahan ajar tanpa ditindaklanjuti dengan penjelasan, dan lain-lain. Kebiasaan lama itu sudah merasuk pada relung-relung hati guru kita, sehingga sangat sulit untuk diubahnya.

Kebiasaan baru yang bisa dilakukan guru misalnya pembelajaran berbasis IT, penerapan model pembelajaran aktif, pembelajaran berbasis masalah, melakukan penelitian tindakan kelas, dan lain-lain. Untuk mengubah kebiasaan lama itu dibutuhkan waktu dan kesabaran. Yang penting menyadarkan guru dulu bahwa kebiasaan lama itu sudah tidak zamannya lagi.

Ketertutupan guru pada hal-hal yang baru bisa saja disebabkan karena mereka sudah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki. Mereka punya pandangan bahwa ilmu pengetahuan pada waktu kuliahpun sudah cukup.

Padahal ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang kaitannya dengan pembelajaran selalu berkembang. Hasil-hasil penelitian mutahir tentang pendidikan dan pembelajaran sangat mudah untuk diakses oleh siapapun.

Supaya tidak terjadi malpraktik mengajar, ada beberapa hal yang bisa kita upayakan. Pertama mengefektifkan peran organisasi profesi guru seperti MGMP, forum ilmiah guru, PGRI, dan lain-lain.

Semua organisasi profesi tersebut harus fokus pada upaya peningkatan kompetensi guru. Kegiatan-kegiatannya bisa melalui pelatihan, workshop, seminar, lesson study, micro teaching, dan lain-lain.

Kedua, para pembina, kepala sekolah atau pengawas harus secara berkesinambungan melakukan pengawasan. Supervisi yang selama ini kita lakukan harus ditindaklanjuti dalam bentuk pembinaan-pembinaan. Diskusi pembelajaran dengan guru harus sudah menjadi kebiasaan.

Ketiga, guru harus sudah mulai sadar bahwa zaman ini berubah. Artinya ilmu pengetahuan dan teknologi juga berkembang sangat pesat. Oleh karena itu, guru harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Keempat, budaya meneliti di kalangan guru harus sudah menjadi kebiasaan. Guru mengajar sebenarnya sudah biasa, karena memang tugasnya. Tapi guru meneliti menjadi luar biasa karena masih sedikit yang melakukannya.

Setiap akreditasi sekolah jumlah guru yang suka melakukan penelitian sangat sedikit. Di tingkat nasional baru 4 persen guru yang melakukan penelitian. Penelitian yang dianjurkan untuk para guru yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kinerja guru, terutama dalam hal pembelajaran.

Jika keempat hal tadi dilaksanakan secara konsisten, maka guru yang melakukan malpraktik mengajar sangat tidak mungkin ditemukan lagi. Semoga!

Penulis adalah Kepala SMP Negeri 2 Garut dan Tim Pengembang Regulasi di Bidang Pendidikan, Kemendikbud RI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *