Dari Jualan Cilok, Turmuzi Biayai Kuliah Hingga Lulus

Dari Jualan Cilok, Turmuzi Biayai Kuliah Hingga Lulus

Dari berjualan bakso cilok, Turmuzi bisa membiayai kuliahnya. Harapannya untuk kuliah sempat pupus. Setelah orang tuanya meminta untuk merantau ke Malaysia sebagai TKI.

Cita-cita Pemuda Asal Mataram Ini Terwujud Berkat Usaha Cilok

Konten.co.id – Tak punya biaya bukan menjadi alasan untuk berhenti mencari ilmu. Masalah biaya memang kerap membuat orang memutuskan berhenti dari sekolah. Apalagi sampai berkeinginan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi.

Namun persoalan biaya tak menjadi alasan bagi Turmuzi. Pemuda asal Mataram yang merantau ke Sulawesi Selatan. Di tanah rantau, Turmuzi menggapai cita-citanya untuk mengenyam pendidikan di STAI AL-Gazali, Kabupaten Barru.

Anak keempat dari lima bersaudara ini memang mempunyai keinginan yang keras. Padahal orang tuanya sudah meminta agar ia menjadi seorang TKI ke Malaysia. Keluarga tak mampu membiayai Turmuzi untuk bersekolah. Harapan pria 28 tahun untuk bisa menempuh pendidikan tinggi saat itu hampir pupus.

“Dulu saya sempat kuliah tapi berhenti karena faktor ekonomi. Lalu pada April 2012 saya diajak ke Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan sama keluarga,” ujarnya dikutip dari Radar Lombok.

Kedatangannya ke tanah rantau itu untuk menjual bakso cilok dan gorengan. Namun dari sana, ia mulai mewujudkan cita-citanya. Awalnya Turmuzi bekerja selama dua tahun membuat bakso. Ia tinggal di rumah pamannya.

Setelah menguasai cara membuat bakso, Turmuzi memberanikan diri membuka usaha sendiri. Dari usaha itu ia mempunyai pendapatan dan memilih untuk kuliah.

“Biayanya bisa terjangkau sama saya. Saya ambil kuliah yang siang. Jualan bakso di pasar dan kadang di kampus juga sambil jualan,” ucapnya.

Meski sehari-hari bekerja menjual bakso cilok untuk membiayai kuliah, ia akhirnya bisa lulus dan diwisuda. Pada 6 Februari 2019 menjadi hari yang sangat membanggakan bagi Turmuzi. Ia tak menyangka bisa menyelesaikan studinya.

Turmuzi tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan yang dilakukan. Dosen di kampusnya juga mengapresiasi apa yang dikerjakannya. Bahkan setelah semester tiga, ia diikutsertakan menjadi tenaga honorer di MA/MTs di Barru. 

“Saya dipercaya mengajar bahasa Arab di sana,” katanya.

Saat ini, Turmuzi mempersiapkandiri untuk melanjutkan studi S2. Ia juga berinisatif untuk menyewa tempat di dekat kampus untuk berjualan. Turmuzi masih mencari tambahan untuk biaya S2.

“Jika mau berusaha, maka Tuhan akan mempermudah,” ucapnya. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *