Bahasa Sunda Jangan Dilupakan Sebagai Bahasa Ibu

Bahasa Sunda Jangan Dilupakan Sebagai Bahasa Ibu

Sebagai bahasa daerah di Jawa Barat, bahasa Sunda jadi bahasa yang sering dipakai masyarakat. Namun penggunaannya kini mulai berkurang karena banyak keluarga yang mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.

Hari Bahasa Ibu Internasional, Bahasa Sunda Tak Lagi Jadi Bahasa Utama di Jabar

Oleh: Darpan, M.Pd

Setiap tanggal 21 Februari, diperingati sebagai hari bahasa ibu internasional. Peringatan ini dilakukan sejak 1999 dan digagas oleh Unesco. Unesco melihat bahwa ribuan bahasa ibu di dunia terancam punah karena ditinggalkan penuturnya. Sementara pada bahasa ibu, sebenarnya terkandung kearifan lokal yang generik.

Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu sebagian besar masyarakat Jawa Barat juga terindikasi banyak ditinggalkan penuturnya. Seperti halnya bahasa daerah lain di nusantara, bahasa Sunda semakin tergerus oleh budaya global dan budaya massa yang didukung modal besar.

Contoh yang paling kentara antara lain banyak keluarga Sunda yang mulai mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama atau bahasa ibu di rumah. Karena itu, walaupun bahasa Sunda diajarkan di sekolah, anak-anak Sunda sehari-hari bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia.

Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) tentu saja prihatin dengan keadaan ini. LBSS yang didirikan sejak tahun 1952 untuk ikut melestarikan dan mengembangkan bahasa dan sastra Sunda, berusaha terus mendorong berbagai pihak agar peduli terhadap keberadaan bahasa Sunda. Tujuannya agar jumlah penutur bahasa Sunda tidak terus menerus menurun secara masif.

Namun demikian LBSS tetap optimis. Antara lain karena saat ini aturan perundang-undang berkaitan dengan kebahasaan sudah cukup lengkap. Setelah muncul UU No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, muncul PP No. 57 tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia, yang didalamnya ikut mengatur pelestarian bahasa daerah.

Di samping itu telah lama berlaku Permendagri No. 40 taun 2007 tentang Pedoman Bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah. Terakhir muncul UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan bahasa daerah sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan.

Sayangnya, LBSS melihat bahwa aturan perundang-undangan tersebut belum dijalankan secara sungguh-sungguh sehingga kepunahan bahasa daerah di Indonesia terus berlangsung. Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta menyatakan bahwa sampai tahun 2018 ada 11 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan punah, empat kritis, dan dua mengalami kemunduran.

Berkaitan dengan bahasa Sunda, LBSS bertekad melakukan segala upaya agar keberadaan bahasa yang menjadi jati diri orang Jawa Barat ini tidak terus memudar. LBSS telah mengirim surat imbauan kepada Gubernur Jawa Barat dan seluruh Bupati dan Walikota di Jawa Barat agar peduli terhadap bahasa Sunda.

Berkaitan dengan hari peringatan bahasa ibu internasional, Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota diimbau melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan apresiasi terhadap bahasa Sunda.

Optimisme harus terus ditumbuhkan. LBSS juga melihat banyak masyarakat Sunda yang masih bangga dan menggunakan bahasa daerahnya. Hal itu misalnya terlihat dengan adanya penulisan karya sastra di media mainstream maupun digital.

Di media sosial, masih banyak orang yang menggunakan bahasa Sunda sebagai media untuk berekspresi melalui postingan tulisan maupun video. Di lembaga pendidikan, pengajaran bahasa Sunda dan pengembangan kaulinan tradisional terus dilakukan. Lagu-lagu berbahasa Sunda terus bermunculan.

Tetapi optimisme tidak cukup. Orang Sunda sendiri pertama-tama harus memiliki kebanggan terhadap bahasa daerahnya. Kebanggaan itu juga harus dibuktikan dengan menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan komunikasi sehari-hari dengan sesamanya.

Hanya dengan cara seperti itulah bahasa Sunda akan terus terpelihara. Mengagung-agungkan kebanggan tanpa mempraktikannya, seperti banyak diperlihatkan oleh orang Sunda saat ini, adalah omong kosong. ***

Penulis adalah Ketua Badan Pangurus Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda (LBSS) dan Guru Bahasa Sunda SMAN 1 Garut.

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *