Ambisi China, Bangun Pembangkit Listrik di Luar Angkasa

Ambisi China, Bangun Pembangkit Listrik di Luar Angkasa

China memiliki ambisi besar untuk misi luar angkasanya. Persaingan dengan Amerika Serikat jadi salah satu penyebab ambisi China itu.

Stasiun Tenaga Surya Pertama di Luar Angkasa Akan Segera Dibangun China

Konten.co.id – Negeri tirai bambu berambisi untuk memiliki pembangkit listrik pertama di luar angkasa. Keinginan tersebut menyusul kesuksesan China yang berhasil pergi ke sisi terjauh bulan.

China menjadi negara dengan ekonomi kedua terkuat di dunia. Wajar saja jika mereka kini ingin membangun pembangkit listrik di luar angkasa. Dengan finansial yang dimiliki, impian itu bisa terwujud.

Namun keinginan China itu akan memanaskan persaingan dengan Amerika Serikat di sektor teknologi luar angkasa. China sedang bersiap untuk membangun stasiun tenaga surya di luar angkasa.

Mereka berencana untuk mengembangkan pembangkit listrik yang lebih kecil di stratosfer antara tahun 2021 dan 2025.

Dengan anggaran tahunan USD 8 miliar atau setara Rp 112 triliun, untuk program luar angkasanya, Cina berupaya bersaing dengan saingannya untuk dominasi ekonomi, militer, dan teknologi.

Para ilmuwan telah memulai pembangunan pangkalan percobaan di kota China bagian barat, Chongqing, seperti dilansir dari Bloomberg.

Mereka berencana untuk mengembangkan pembangkit listrik yang lebih kecil di stratosfer antara tahun 2021 dan 2025.

Fasilitas tenaga surya level 1 megawatt di ruang angkasa pada tahun 2030, dan akhirnya generator yang lebih besar, menurut Science and Technology Daily.

China bertujuan membangun stasiun ruang angkasa sendiri sekitar tahun 2022. Dijuluki Tiangong, atau Istana Surgawi. Stasiun itu akan memiliki modul inti dan dua modul lain untuk eksperimen.

Total bobot stasiun seberat 66 ton dan mampu membawa tiga orang, dengan siklus hidup yang dirancang setidaknya 10 tahun. Fasilitas ini akan digunakan untuk penelitian ilmiah di berbagai bidang termasuk biologi, fisika dan ilmu material.

Misi luar angkasa China juga untuk mengurangi dominasi Amerika dalam teknologi. Salah satunya untuk membangun sistem navigasi dan memangkas ketergantungannya pada GPS milik Amerika.

China menghabiskan USD 9 Miliar untuk membangun sistem navigasi tersebut. Semua satelit navigasi yang ada saat ini dikendalikan oleh Amerika. China telah mengembangkan sistem alternatif yang disebut sistem navigasi Beidou. (FW)

Ade Indra
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Video

Berita pilihan