Wisatawan Pantai di Garut Menurun, Khawatir Tsunami

Wisatawan Pantai di Garut Menurun, Khawatir Tsunami

Tsunami di Selat Sunda di akhir tahun 2018 bukan hanya menimbulkan korban dan kerusakan. Dampak dari tsunami juga membuat kunjungan wisatawan ke pantai berkurang. Wisatawan takut jika terjadi tsunami.

Nelayan dan Pengusaha Keluhkan Penurunan Wisatawan di Pantai Selatan Garut

Konten.co.id (Garut),- Tingkat kunjungan wisatawan ke pantai selatan Kabupaten Garut pada libur akhir tahun mengalami penurunan. Dampak tsunami di Banten dan Lampung beberapa waktu lalu menjadi salah satu penyebab berkurangnya wisatawan.

Karsono (46), salah seorang nelayan di Pantai Santolo mengaku dampak dari tsunami sangat terasa di libur tahun baru kali ini. Menurutnya, jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis dibanding libur panjang tahun lalu.

“Perkiraan saya penurunannya sampai 90 persen lebih. Ikan nelayan biasanya diborong sama wisatawan yang menginap. Tapi sekarang, banyak nelayan yang rugi karena ikan tak laku dibeli,” ucap Karsono, Selasa (2/1/2019).

Biasanya di libur akhir tahun, objek wisata pantai di Santolo dan Sayangheulang dipenuhi puluhan ribu wisatawan. Jalan dari Pameungpeuk hingga Cikelet dipadati ribuan kendaraan roda dua dan roda empat. Kepadatan kendaraan tersebut sering menimbulkan kemacetan.

“Kemarin waktu pergantian tahun, jalan lancar. Enggak macet banget kayak tahun lalu,” ujarnya.

Karsono yang juga menjadi pembina karang taruna di Pantai Santolo menyebut pendapatan dari sektor parkir menurun drastis. Pada tahun lalu, ia bisa meraup Rp 20 juta dari parkir.

Sekarang dari parkir hanya dapat Rp 2 juta sehari. Penurunnya drastis karena pengaruh dari tsunami. Wisatawan takut datang ke pantai.

Keluhan yang sama juga dilontarkan Ina (31), pedagang pakaian di Pantai Santolo. Pedagang musiman itu mengaku rugi puluhan juta rupiah karena dagangannya tak laku saat libur tahun baru kali ini.

“Saya belanja baju sampai Rp 36 juta. Tapi sedikit sekali yang beli. Akhirnya saya obral saja sebagian barang. Cuma dapat Rp 800 ribu,” kata Ina.

Penurunan wisatawan juga berdampak kepada tingkat hunian penginapan. Bayu Tresna (22), pemilik penginapan Bayu Samudra tak bisa meraup untung di libur panjang tahun ini. Di malam tahun baru, penginapan miliknya hanya dihuni oleh 20 tamu.

“Tahun kemarin semua kamar penuh. 10 kamar semua terisi. Tapi sekarang kurang dari lima kamar. Dulu tamunya bisa sampai 50 orang lebih,” ucap Bayu. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *