fbpx

Ritel dan Perbankan di Indonesia Digulung Badai PHK

Ritel dan Perbankan di Indonesia Digulung Badai PHK

Industri 4.0 mengancam para pekerja di sejumlah perusahaan ritel dan perbankan di Indonesia.

Ribuan Pekerja Ritel dan Perbankan di Indonesia Terkena PHK

Konten.co.id – Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bergerak. Jutaan buruh dari berbagai perusahaan terkena dampaknya. Baru-baru ini, sektor perbankan dan ritel merasakan imbasnya.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut total karyawan yang terkena PHK dalam kurun 2015-2018 mencapai hampir 1 juta orang. Selain perusahaan ritel dan perbankan, beberapa perusahaan yang merumahkan karyawannya bergerak dalam produksi semen dan baja.

Tak hanya itu, penutupan pabrik dari perusahaan elektronik seperti Toshiba dan Panasonic juga menyebabkan karyawannya kehilangan pekerjaan. Belum lagi, penutupan toko ritel Giant juga menambah jumlah karyawan yang dirumahkan tahun ini semakin banyak.

Ketua KSPI, Said Iqbal mengatakan, di tahun 2015 lalu, jumlah karyawan yang terkena PHK sebanyak 50 ribu karyawan yang bekerja di perusahaan berbasis tekstil, makanan dan minuman (mamin). Kemudian, PHK pada 2016 dan 2017 terjadi di industri ritel, perbankan, keramik, pertambangan, dan farmasi kesehatan.

Menurutnya, revolusi industri 4.0 berdampak pada sektor dunia kerja. Oleh karena itu badai PHK tak terhindari lagi.

Saya berharap pemerintah bisa menghentikan badai ini. Jaminan kerja bagi para buruh sebenarnya telah dilindungi UU no. 13 Tahun 2003 pasal 151 ayat 1. Dalam pasal itu disebutkan, pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sementara itu, Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk, Tony Mampuk, mengatakan, kinerja keuangan perusahaan melemah sejak kuartal III 2018. Kondisi keuangan tersebut membuat perusahaan terpaksa mem-PHK karyawannya.

Sementara 532 karyawan tersebut berasal dari 26 gerai ritel Giant Supermarket yang ditutup sepanjang 2018. Tony pun memastikan, semua hak karyawan yang diatur oleh pemerintah, sudah diberikan.

“Ini tidak mendadak, kami sudah berikan pemberitahuan 3 bulan sebelum gerai di tutup. Dari jumlah itu, akhirnya 532 karyawan menerima dan menyepakati di PHK,” ujarnya.

Disektor perbankan, teknologi menjadi alasan menggantikan peran manusia dalam operasional. Dengan teknologi, perbankan tak lagi harus banyak kantor cabang dan mempekerjakan banyak karyawan.

Direktur Sumber Daya Manusia PT Bank CIMB Niaga Tbk Hedy Lapian menjelaskan pengurangan tenaga kerja merupakan hal yang normal. Sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Terpisah, Presiden RI, Joko Widodo menjelaskan, pola industri 4.0 memang ada pergeseran dari model offline ke online. Sehingga pekerjaan manusia banyak dikerjakan oleh teknologi.

Presiden menginginkan, semua sektor pekerjaan meningkatkan kompetensi teknologi. Sehingga pekerja yang memiliki kompetensi ini akan dibutuhkan oleh berbagai sektor dunia usaha.

Menanggapi persoalan itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Rhenald Kasali, banyak pihak yang menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya tak dikenal 10-20 tahun lalu.

“Barista, blogger, web developer, apps creator/developer, smart chief listener, smart ketle manager, big data analyst, cyber troops, cyber psichologyst, cyber patrol, forensic cyber crime specialist, smart animator, game developer, smart control room operator, medical sonographer, prosthodontist, crowd funding specialist, social entrepreneur, fashionista and ambassador, BIM Developer, Cloud computing services, cloud service specialist, Dog Whisperer, Drone operator dan sebagainya,” kata Rhenald dalam tulisannya, Kamis (17/1/2019).

Info Grafis PHK Pekerja Ritel dan Perbankan di Indonesia

Menurut Rhenald, ke depan pasti muncul kelompok-kelompok penekan yang seakan-akan sanggup menjadi “juru selamat” PHK. Namun perlu disadari gerakan-gerakan itu akan berujung pada kesia-siaan.

“Kita misalnya menyaksikan sikap yang dibentuk oleh tekanan-tekanan publik seperti itu dari para gubernur yang sangat anti bisnis-bisnis online. Mungkin mereka lupa, dunia online telah menjadi penyedia kesempatan kerja baru yang begitu luas. Larangan ojek online misalnya, bisa mematikan industri kuliner dan olahan rumah tangga yang menggunakan armada go-food dan go-send,” terangnya.

“Berapa banyak tukang martabak yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan, rumah makan ayam penyet dan pembuat sabun herbal yang juga diantar melalui gojek. Sama halnya dengan menghambat pembayaran noncash di pintu-pintu tol, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memberikan pelayanan-pelayanan baru yang lebih manusiawi dan lebih aman.” kata Rhenald, dikutif dari CNBC.

Rhenald pun berpesan; Satu hal yang pasti, kita harus mulai melatih anak-anak kita menjadi pekerja mandiri menjelajahi profesi-profesi baru. Ketika mesin dibuat menjadi lebih pandai dari manusia, maka pintar saja tidak cukup. Anak- anak kita perlu dilatih hidup mandiri dengan mental self-driving, self-power, kreatifitas dan inovasi, serta perilaku baik dalam melayani dan menjaga tutur katanya di dunia maya (yang sekalipun memberi ruang kebebasan dan kepalsuan). (MHI)***

Denis Septianda
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video