Reformasi Pendidikan Sebaiknya Dimulai dari Kelas

Reformasi Pendidikan Sebaiknya Dimulai dari Kelas

Esensi dari pendidikan yaitu nilai-nilai dan siswa berperan sebagai subjek dalam pembelajaran.

Pendidikan Bukan Sebatas Pembelajaran di Kelas

Oleh: Budi Suhardiman
Penulis adalah praktisi pendidikan dan Kepala SMPN 2 Garut

Masih banyak orang, termasuk guru dan aparat pendidikan lainnya memandang bahwa pendidikan diartikan hanya sebatas pembelajaran di kelas. Pendidikan hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik. 

Peserta didik dijejali dengan berbagai ilmu pengetahuan oleh guru. Peran peserta didik hanya sebagai penerima (objek) tidak berperan aktif dalam pembelajaran. 

Komunikasi yang terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru kepada peserta didik. Padahal esensi dari pendidikan yaitu nilai-nilai dan siswa berperan sebagai subjek dalam pembelajaran. Pembelajaran hanya sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik. 

Melalui pembelajaran yang dilakukan guru di kelas diharapkan ada perubahan perilaku pada diri peserta didik. Terlepas dari apa mata pelajarannya, guru harus mampu menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik. 

Nilai-nilai yang dimaksud yaitu nilai-nilai karakter bangsa, seperti religius, kejujuran, baik budi bahasa dan perilaku, sopan santun, sosial, tenggang rasa, menghargai jasa orang lain, cinta lingkungan hidup, berjiwa besar, menghargai orang-orang yang berprestasi dan berdedikasi, dan lain-lain.

Penanaman nilai-nilai tersebut dilakukan guru di kelas. Di dalam konteks ini yang dimaksud kelas yaitu sekelompok siswa yang sedang belajar. Kelas tidak diartikan ruang belajar yang dibatasi oleh dinding-dinding tembok. Dengan demikian, inti dari pendidikan sebenarnya terjadi di sekolah melalui pembelajaran di kelas. 

Sementara itu yang bertanggung jawab langsung dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas yaitu guru. Oleh karena itu meningkatkan kompetensi guru mutlak untuk dilakukan. Mutu pendidikan nasional tidak akan pernah meningkat jika tidak diawali dari meningkatkan kompetensi guru. 

Sangat wajar jika dewasa ini pemerintah membuat berbagai kebijakan yang diarahkan kepada upaya peningkatan kompetensi guru, seperti sertifikasi, pemberdayaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), pendidikan dan pelatihan model-model pembelajaran, dan lain-lain.

Oleh karena inti pendidikan adalah pembelajaran di kelas, maka reformasi pendidikan sesungguhnya harus dimulai dari kelas. Melalui interaksi guru dan siswa di kelas akan terjadi pewarisan budaya, sehinga apa yang dilakukan guru di kelas itulah yang akan merubah kebudayaan bangsa yang sesungguhnya. Jadi betapa strategisnya pembelajaran yang dilakukan guru di kelas dalam membangun budaya bangsa.

Untuk mereformasi pendidikan ada dua kunci yang bisa dilakukan, yaitu paradigma baru dalam mendesain kembali sekolah dan sistem mendesain kembali sekolah.

Paradigma baru dalam mendesain kembali sekolah meliputi (1) total quality learning (TQL), (2) from top down to bottom up: empowering teacher, (3) cognizant of cognition: how children learn, (4) cooperative learning; all for one, one for all, (5) computer based learning technologies.

Total quality learning, mengandung arti bahwa pembelajaran yang dilakukan guru di kelas harus difokuskan pada peningkatan mutu. Mutu pembelajaran akan terwujud apabila gurunya bermutu. 

Pada hakikatnya guru yang bermutu yaitu guru yang memahami prinsif-prinsif pendidikan/pembelajaran, menguasai bahan ajar yang menjadi tanggung jawabnya, menguasai berbagai model pembelajaran, menguasai prinsif-prinsif penilaian, dan menguasai berbagai karakteristik siswa. Selain itu pembelajaran yang bermutu dipengaruhi juga oleh faktor-faktor, seperti alat dan sumber belajar.

From top down to bottom up: empowering teacher, mengandung arti bahwa sudah saatnya guru di lapangan diberdayakan segala potensi yang dimilikinya. Guru tidak hanya dijadikan objek atau sasaran dari sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah, tetapi guru harus dilibatkan dalam membuat kebijakan. Guru harus diajak bicara untuk ikut memikirkan pendidikan.

Cognizant of cognition: how children learn, mengandung arti bahwa guru harus memahami bagaimana peserta didik belajar. Hal ini penting untuk menentukan keputusan guru dalam melayani siswa.

Cooperative learning; all for one, one for all, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Di dalam pembelajaran yang menggunakan model ini semua siswa ikut aktif terlibat baik secara fisik maupun secara psikis. Dengan demikian belajar melalui pengalaman langsung siswa bisa terlaksana dengan baik.

Computer based learning technologies, di era global seperti ini yang menuntut kita untuk bisa menguasai teknologi informasi, maka sudah saatnya pembelajaran di sekolah berbasis teknologi komputer. Pembelajaran berbasis teknologi komputer merupakan persiapan generasi yang akan datang agar mampu hidup di era global yang penuh dengan persaingan dan menuntut sejumlah kompetensi.

Paradigma baru yang harus dilakukan berkaitan dengan sistem mendesain sekolah yaitu (1) menempatkan calon guru dengan catatan kerja mereka (record), (2) guru di sekolah calon guru (LPTK) harus melakukan tes model paradigma baru, (3) guru harus memahami peran, sebagai pelayan siswa, mencoba ide-ide baru, dan (4) harus menjaga komunikasi yang erat, baik dengan lingkungan sendiri maupun dengan luar.

Selain yang dikemukan di atas, kegiatan lain yang bisa dilakukan yaitu pengembangan sekolah secara profesional dan kemitraan sekolah dengan universitas berbasis penelitian.

Kang Oni
AUTHOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *