fbpx

Perjuangan Keras Murid MI di Garut Sebrangi Sungai Cimanuk

Perjuangan Keras Murid MI di Garut Sebrangi Sungai Cimanuk

Rakit sudah bukan hal yang asing bagi murid MI Nurul Huda, Garut. Meski bahaya, mereka terpaksa memakai rakit untuk sebrangi Sungai Cimanuk saat akan pergi ke sekolah.

Tak Ada Jembatan, Rakit Jadi Akses Transportasi Utama

Konten.co.id (Garut) – Tak mudah bagi Muhammad Dafa (11) dan Dikri (13), untuk tiba ke sekolah. Keduanya bersama tujuh murid lain harus menyebrangi Sungai Cimanuk menggunakan rakit. Butuh perjuangan keras bagi mereka menimba ilmu.

Sejak hari pertama sekolah, lima tahun lalu, Dafa tak punya pilihan lain untuk menyebrang Sungai Cimanuk. Rakit jadi akses utama untuk bisa sampai ke sekolah.

Lokasi rumahnya berada di Kampung Pananggungan, Kelurahan Lengkong Jaya, Kecamatan Karangpawitan. Meski berada di perbatasan, rumah Dafa terhalang oleh Sungai Cimanuk untuk menuju sekolah di Kampung Tegalkalapa, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.

Murid Madrasah Ibtidayah (MI) Nurul Huda itu juga harus melintasi sawah dengan jalan setapak. Tak jarang di musim hujan, para murid harus menenteng sepatu.

“Biar sampai sekolah enggak kotor dan basah sepatunya,” kata Dafa saat akan menyebrangi Sungai Cimanuk menuju rumahnya.

Menuru Dafa, ia lebih memilih belajar di MI Nurul Huda karena jaraknya yang lebih dekat. Hanya sekitar 300 meter dari rumah menuju sekolah.

Sedangkan sekolah yang berada di kampungnya berjarak lebih jauh. Sekitar dua kilometer.

Infografis jembatan rawayan di Kabupaten Garut.

Namun tak selamanya Dafa harus menyebrang sungai. Jika arus Sungai Cimanuk sedang besar, Dafa harus memutar jalan untuk pergi ke sekolah. Jaraknya bisa mencapai tiga kilometer.

“Kalau hujan mah lewat ke Copong. Biasanya naik ojek bayar Rp 10 ribu, terus naik angkot lagi Rp 5 ribu. Bolak-balik ongkosnya bisa habis Rp 30 ribu,” ujarnya.

Namun jika tak punya ongkos, Dafa dan teman-temannya memilih berjalan kaki. Meski harus menghabiskan perjalanan sampai satu jam.

Ia hanya berharap, pemerintah bisa membantu dengan membuat jembatan. Harapan yang ditunggu warga Kampung Pananggungan sejak berpuluh tahun lalu.

“Naik rakit memang murah, cuma bayar Rp 1.000 sekali nyebrang. Cuma suka takut juga air tiba-tiba besar,” ucapnya.

Kepala Desa Sukasenang, Iwan Ridwan, menyebut sudah lebih dari 30 tahun warga di Pananggungan harus menyebrang dengan rakit. Sejak dulu, belum ada jembatan yang dibangun pemerintah.

“Bukan hanya anak sekolah saja yang pakai rakit. Warga lain yang mau berangkat kerja atau ke pasar juga gunakan rakit ini,” kata Iwan.

Akses dari menuju jalan raya melalui Tegalkalapa dari Pananggungan, disebut Iwan memang lebih dekat. Untuk pergi ke pasar, warga hanya naik angkutan umum satu kali.

“Kalau jalannya mutar, harus naik ojek dulu. Terus dilanjut naik angkot,” ujarnya.

Ia mengaku sering khawatir saat anak-anak menyerbang sungai karena arusnya yang deras. Bahkan rakit yang digunakan sering terbawa arus dan rusak.

“Jembatan itu sangat dibutuhkan. Semoga saja pemerintah bisa segera membangun jembatan. Apalagi anak-anak mau belajar,” ucapnya. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya :


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Aplikasi Android

Aplikasi Portal Berita Konten di Google PlayStore

Satire

Berita Pilihan

Berita Video