Pemilu 2019 Pengaruhi Pola Penyaluran Kredit Perbankan

Pemilu 2019 Pengaruhi Pola Penyaluran Kredit Perbankan

Penyaluran kredit di tahun 2019 akan mengandalkan pada sektor kredit konsumsi. Sementara kredit investasi akan berkurang karena berbenturan dengan agenda Pemilu.

Jelang Pemilu 2019, Kebutuhan Kredit Konsumsi Diprediksi Meningkat

Konten.co.id – Penyelenggaraan pemilhan umum (Pemilu) 2019 ternyata berdampak pada pola penyaluran kredit perbankan. Jika di tahun 2017-2018 penyaluran kredit lebih banyak di sektor infrastruktur, di tahun 2019 akan lebih banyak disalurkan ke sektor konsumsi.

“Di tahun ini kredit infrastruktur tak lagi sekencang di 2017-2018. Namun, kredit investasi dan konsumsi yang akan menopang pertumbuhan kredit tahun ini,” kata Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Destry Damayanti, kepada wartawan di Kantor LPS, Jakarta.

LPS memperkirakan pertumbuhan kredit di 2019 sebesar 12,4%, tak jauh berbeda dari 2018 yang ditargetkan 12%. Kondisi penyaluran kredit tahun ini juga tak lepas dari dinamika pemilihan umum di 2019, di mana ada Pileg dan Pilpres.

Dia menjelaskan, di semester I 2019 geliat penyaluran kredit takkan kencang, khususnya untuk kredit investasi. Hal ini didorong sifat investor yang cenderung “wait and see”, memantau perkembangan politik Tanah Air.

Menurutnya, saat ini pengusaha sudah banyak yang menunjukkan minat untuk ekspansi, memperluas investasinya, namun tertahan menunggu kepastian presiden Indonesia yang akan terpilih. Sebab, itu mempengaruhi kebijakan yang akan dikeluarkan.

Penyaluran kredit konsumsi diprediksi akan meningkat jelang Pemilu 2019. Hal tersebut didasarkan atas kebutuhan logistik pemilu seperti baliho dan alat peraga kampanye lainnya.

Di sisi lain, kredit konsumsi sepanjang proses pemilu akan meningkat. Lantaran, kebutuhan akan atribut kampanye di tahun politik akan semakin besar.

Meski demikian, secara keseluruhan penyaluran kredit baru akan pesat di semester II 2019, usai pemilu rampung. Sebab kepastian pemimpin dan kebijakannya baru akan terlihat jelas. 

Sementara itu, Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan rencana bisnis bank (RBB) yang menargetkan pertumbuhan kredit 2019 di atas 12%  dan DPK 11,49%.

Sementara itu, OJK memproyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan pada tahun 2019 bertumbuh di kisaran 13% plus minus 1%. Adapun Non Performing Loan (NPL) diperkirakan ada di kisaran 2,2%-3% . Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan meningkat di kisaran 8%-10%.

Wimboh melanjutkan, pihaknya tidak menutup kemungkinan bahwa tahun ini masih akan ada beberapa tekanan. Namun, melihat kondisi eksternal yang mulai cerah seperti Fed Fund Rate mulai melandai dan capital inflow yang mulai kembali ke Indonesia, kondisi industri perbankan diyakini bisa terkerek naik.

“Ke depan kami melihat masih ada beberapa tekanan, namun sesuai dengan apa yang telah disampaikan, kami optimis industri jasa keuangan dengan kolaborasi dapat menjaga momentum pertumbuhan yang ada.” ucapnya. (MHI)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *