Momok Jadi Perawan Tua di Gunung Kidul

Momok Jadi Perawan Tua di Gunung Kidul

Budaya sebutan perawan tua untuk wanita usia 20 tahun yang belum menikah mendorong tingginya pernikahan dini di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Penyebab Tingginya Pernikahan Dini di Gunung Kidul

Konten.co.id (Gunung Kidul).- Tingginya pernikahan dini di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta terus menjadi sorotan. Panggilan perawan tua bagi perempuan usia 20 tahun yang belum menikah menjadi salah satu pemicunya. Sehingga orang tua mengusahakan anaknya untuk menikah di usia yang masih muda.

Selain itu, faktor lain penyebab pernikahan dini di Gunung Kidul yaitu pergaulan bebas. Sehingga banyak orang tua yang mengajukan dispensasi menikah.

Humas Pengadilan Agama Wonosari Gunungkidul, Barwanto mengungkapkan, tingkat pernikahan dini di Kabupaten Gunung Kidul terus mengalami peningkatan. Hal tersebut dipengaruhi kultur dan perilaku warga.

“Ada istilah perawan tua dan hamil di luar nikah turut mendorong tingginya pernikahan dini di Gunung Kidul,” kata Barwanto, Selasa (15/1), kepada wartawan.

Ia menuturkan, berbagai pihak harus mulai bekerja keras untuk menekan angka pernikahan dini tersebut. Peningkatan edukasi terkait istilah perawan tua dan pergaulan bebas harus difahamkan ke masyarakat.

“Pernikahan dini masih menjadi catatan penting kami untuk ditindaklanjuti,” tuturnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pengadilan Agama, dispensasi kawin yang dikeluarkan pada 2015 sebanyak 109, kemudian menurun pada 2016 menjadi 85, dan pada 2017 kembali turun menjadi 67, namun pada 2018 kembali meningkat menjadi 79.

“Sebenarnya setelah adanya peraturan bupati (Perbup) tentang pernikahan dini itu mengalami penurunan. Mungkin karena sudah cukup lama ya, harus kembali disosialisasikan lagi,” kata dia.

Ia menuturkan untuk menekan angka pernikahan dini sangat penting adanya peran orangtua, yang harus dapat membina anak. Dinilainya juga kemajuan teknologi yang ada saat ini tidak hanya memberi efek positif, namun anak juga sering terpapar konten negatif jika lepas kontrol dari orangtua.

Senada dengan Barwanto, Kepala Bidang Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD), Gunung Kidul, Rumi Hayati mengungkapkan tantangan pencegahan pernikahan dini yaitu di era keterbukaan informasi ini.

Ia menuturkan banyak dampak negatif dari pernikahan dini itu. Mulai dari, kondisi biologis yang belum siap berdampak pada kesehatan. Kemudian secara ekonomi dimungkinkan belum siap, dan secara psikologis sering muncul pertengkaran atau bahkan kekerasan yang timbul.

Berbagai upayapun telah diklaim telah dilakukan Pemkab untuk menekan angka perkawinan dini tersebut. Mulai dari keluarnya Perbup hingga penggencaran sosialisasi ke masyarakat, dan memberi penghargaan kepada Kecamatan yang mampu menekan angka pernikahan dini. (MHI)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *