Indonesia Lampaui Ambang Batas Gizi Buruk WHO

Indonesia Lampaui Ambang Batas Gizi Buruk WHO

Persoalan gizi buruk masih menghantui negara berkembang seperti Indonesia. Angka gizi buruk di Indonesia tergolong masih tinggi yaitu 17,7 persen.

Angka Gizi Buruk di Indonesia Masih Tinggi

Konten.co.id – Persoalan gizi buruk di Indonesia masih menjadi pekerjaan pemerintah yang belum tuntas. Angka kasus gizi buruk di Indonesia tergolong masih tinggi yaitu 17,7 persen. Angka tersebut jauh di atas ambang batas gizi buruk yang telah ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO) yaitu 10 persen.

Belum lama ini, kasus gizi buruk kembali mengemuka di Desa Kuala Keureuto, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Barat, Aceh. Bocah berusia empat tahun bernama Intan Zahara, terkulai lemah karena gizi buruk yang dideritanya.

Anak pertama dari pasangan Yusri (29) dan Nur Bayani (25) itu terlihat hanya tinggal kulit dan tulang, karena dalam sepekan terakhir tidak bisa makan. Melihat kondisi anaknya semakin buruk, Nurbayani membawa anaknya ke RSUD Cut Meutia Aceh Utara untuk mendapat perawatan medis pada 2015. Lalu dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh untuk perawatan intensif.

Disebutkan, selama perawatan di RSUD ZA Banda Aceh kondisinya sudah membaik, dan dokter menyebutkan kondisi anaknya sudah membaik. Lalu ia membawa pulang anaknya.

Namun setelah mendapat penangan itu, kondisi kesehatan Intan kembali buruk. Puncaknya, Kamis (17/1/2019), Intan kembali dirawan di RSUD Cut Meutia Aceh Utara.

Kasus gizi buruk yang dialami Intan Zahara, merupakan contoh kecil tingginya angka gizi buruk di Indonesia. Kementerian Kesehatan mengungkapkan tingginya angka kekurangan gizi tersebut, terlihat pada tiga kategori, yaitu kategori kekurangan gizi menurut indeks berat badan per usia, angkanya mencapai 17%. Padahal ambang batas angka kekurangan gizi WHO itu 10%.

Sedangkan kategori kedua adalah kekurangan gizi berdasarkan indeks tinggi badan per usia. Dalam kategori ini, angka kekurangan gizi masih 27,5%. Hal tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan dari tahun 2014 sampai 2018 dan Sedangkan ambang batas WHO hanya 20%.

Untuk kategori yang ketiga, maka yang diukur berdasarkan indeks berat badan per tinggi badan. Maka berdasarkan kategori tersebut, angka kekurangan gizinya mencapai 11 persen, yang terdiri dari kurus dan sangat kurus. Sedangkan, ambang batas WHO adalah 5%.

Begitu juga dengan persoalan kasus gizi buruk di Provinsi Aceh, kasusnya juga tidak sedikit. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, maka kasus gizi buruk yang terjadi pada tahun 2016 maka mencapai 268 kasus dan pada tahun 2017 kasus gizi buruk tersebut mencapai 147 kasus.

Infografis Gizi Buruk dan Gizi Kurang Pada Balita 2007-2018 www.konten.co.id
Proporsi Status Gizi Buruk dan Gizi Kurang Pada Balita

Menurut Dosen Gizi Kesehatan UGM, LilyArsanti Lestari, banyak faktor yang menyebabkan persoalan gizi buruk dan kurang di Indonesia. Ia menceritakan, pada tahun 2010, tim dari UGM pernah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Asmat, Papua untuk meneliti persoalan gizi di sana. Menurutnya, dari hasil penelitian tersebut, bahwa faktor seperti akses trasnportasi yang sangat susah (infrastruktur) serta budaya makan menjadi faktor penyebab gizi buruk.

Sementara Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2016-2017, 1 dari 5 ibu hamil mengalami kurang gizi. Sementara 7 dari 10 ibu hamil disebut kurang kalori dan protein.

Disampaikan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono, M. Kes, gizi buruk masih ada di Indonesia karena beberapa hal. Pertama kata dia, gizi buruk bukan hanya persoalan ekonomi dalam mengakses makanan tapi juga ketidaktahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah bahan pangan.

Tak hanya itu, peran multisektor juga penting untuk menekan kasus gizi buruk di Indonesia. Anung mencontohkan, kasus gizi buruk di Papua tak hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Kondisi sanitasi di Papua kata dia sangat buruk sehingga meningkatkan kerentanan balita mengidap infeksi yang pada gilirannya memicu gizi buruk. (MHI)***

https://youtu.be/xH1QMS5YZ9I

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *