Government Shutdown AS Berlanjut, Untungkan Kurs Rupiah

Government Shutdown AS Berlanjut, Untungkan Kurs Rupiah

Rupiah terus mengalami penguatan terhadap dolar AS. Dampak government shutdown hingga perundingan perang dagang antara AS dan Cina ikut berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

Penguatan Rupiah Dampak Gejolak di Amerika Serikat Pada Awal Tahun 2019

Konten.co.id (Washington),- Penutupan sebagian layanan pemerintahan Amerika Serikat (government shutdown) bisa menyebabkan sentimen positif kepada nilai tukar rupiah yang berpeluang terus menguat.

Dilansir dari bbc.com, penutupan sebagian layanan pemerintahan AS itu bermula saat Presiden AS, Donald Trump menginginkan penggelontoran anggaran pembangunan dinding perbatasan dengan Meksiko. Namun pembangunan dinding perbatasan itu tak disetujui kongres yang didominasi pihak oposisi.

Dampak dari penutupan tersebut, sekitar 800.000 karyawan tidak menerima gaji. Pada Rabu (2/1/2019), Trump menegaskan akan tetap menutup selama yang diperlukan sejumlah layanan. Hal itu untuk mendanai pembangunan tembok perbatasan.

Sejak 22 Desember, warga Amerika secara nasional telah menyatakan kekhawatiran dan kemarahan mereka atas situasi ini. Mereka membahas permasalahan tersebut di media sosial.

Warga mengeluhkan mereka tidak dapat membayar tagihan sampai membeli obat akibat dampak penutupan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, sentimen positif yang hadir pascaditutupnya sebagian layanan pemerintahan di AS bisa memberi sentimen positif.

Setelah kemenangan pihak oposisi, Partai Demokrat di pemilu sela AS beberapa waktu lalu, pengambilan keputusan terkait kebijakan Trump di parlemen tak lagi semulus sebelumnya.

Rupiah di kurs Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) tercatat menguat di level Rp 14.465 per dolar AS.

“Memang sekarang Partai Demokrat yang mendominasi lower house, dan pembahasan budget harus disetujui oleh lower house, salah satu dampaknya kemarin permohonan dari Trump untuk menambah budget pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko tidak disetujui,” ujar Perry, di Jakarta, seperti dikutip dari tempo.co.

Perry melanjutkan dampak lanjutan dari berkurangnya dominasi Trump bisa menyebabkan geliat ekonomi AS tak setinggi sebelumnya. Adapun pertumbuhan ekonomi AS tahun ini diprediksi akan turun dari 2,5 persen di 2018 menjadi 2 persen.

“Ini karena tidak adanya stimulus fiskal.” Tak hanya itu, kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan tingkat kepercayaan diri pasar terhadap kinerja ekonomi AS ke depan.

Tak hanya government shutdown, sentimen eksternal lain yang perlu dicermati kata Perry adalah kelanjutan positif dari perundingan perdagangan antara AS dan Cina. “Semakin hari semakin ada tanda titik temu untuk mencari kesepakatan-kesepakatan,” ujarnya.

Dia berharap perkembangan perundingan perang dagang membuahkan hasil yang baik, sehingga tak memperburuk situasi dan keuangan global. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *