Dari Pilkades Sampai Pilpres, Ribut Soal Dukungan

Dari Pilkades Sampai Pilpres, Ribut Soal Dukungan

Dalam era demokrasi, perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar. Tak perlu sampai bertaruh nyawa jika pilihan tak sesuai dengan orang lain. Tapi sejumlah kasus ini cukup berbeda.

Nyawa Melayang Sampai Makam Dibongkar Akibat Beda Pilihan

Konten.co.id.- Akhir pekan kemarin kasus pembongkaran makam di Gorontalo ramai diperbincangkan. Alasannya karena pembongkaran makam akibat tak samanya pilihan politik antara pemilik lahan makam dan keluarga almarhum.

Hanya karena beda pilihan politik, dua makam di Gorontalo harus dibongkar. Keluarga kedua almarhum dipaksa untuk memilih salah satu Caleg dalam Pileg DPRD Bone Bolango.

Kejadian itu terjadi di Dusun II, Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Sabtu (12/1/2019). Abdul Salam Pomontolo, perwakilan keluarga almarhum, mengatakan Awono ingin agar semua keluarga almarhum memilih Caleg bernama Iriani di Pileg 17 April 2019. Jika tak memilih, maka ancamannya membongkar makam.

Kedua makam itu pun akhirnya harus dibongkar. Isak tangis dari keluarga pecah saat makam yang sudah bertahun-tahun ditempati harus dipindahkan.

Kasus tersebut bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Beberapa kasus sempat muncul karena perbedaan pandangan politik. Konten.co.id merangkum sejumlah kasus perbedaan pilihan politik.

Tak Terima Kritik Saat Pilkades, Lima Makam Dibongkar

Tak Terima Kritik Saat Pilkades, Lima Makam Dibongkar www.konten.co.id
Warga membongkar salah satu makam setelah terjadi perbedaan politik dalam Pilkades Jembatan Merah, Gorontalo Utara.

Pemilihan Kepala Desa ( Pilkades) Jembatan Merah, Kecamatan Tomilito, Gorontalo Utara harus berujung pembongkaran lima makam. Kelima kuburan itu dihuni oleh Nur Humolungo, Sumiatin Ahmad, Abdin Dude, Asma Katili, dan Idrus Katili.

Dilansir dari Liputan6.com, kasus tersebut bermula karena adanya kritik yang masuk ke kepala desa petahana. Rupanya keluarga kepala desa tersebut tidak terima dengan kritikan itu.

Lima kuburan di Desa Jembatan Merah tersebut adalah kuburan dari keluarga salah satu calon kepala desa yang menjadi lawan politiknya, yakni Ramin Suleman.

Pihak pemerintah setempat, bersama Bhabinkamtibmas, dan kepolisian juga telah berupaya untuk memediasi antara kedua belah pihak yang berselisih. Namun, upaya mediasi tersebut menemui jalan buntu. Akhirnya pada Minggu (9/12/2018), lima kuburan tersebut diputuskan dibongkar.

Kalah Pilkades, Jalan Desa Ditutup

Kalah Pilkades, Jalan Desa Ditutup www.konten.co.id
Jalan alternatif penghubung Desa Rejosari, Kecamatan Kalikajar dengan Desa Sindupaten, Kecamatan Kertek, Wonosobo ditutup tembok karena kalah dalam Pilkades. Dok. Instagram Wonosobozone

Soim Pamuji, warga Desa Rejosari, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menutup jalan antardesa setelah kalah bertarung pada Pilkades. Pada awal Januari 2019, warga tidak bisa lagi melewati jalan alternatif penghubung Desa Rejosari, Kecamatan Kalikajar dengan Desa Sindupaten, Kecamatan Kertek.

Pasalnya Soim membangun tembok kira-kira setinggi 2 meter. Bahkan, di atas tembok dipasang pecahan kaca sehingga tidak bisa dipanjat. Dikutip dari Kompas.com, Soim membenarkan penutupan jalan itu adalah inisiatifnya. Namun, ia menjelaskan, tembok itu dibangun di atas tanah pribadinya yang sebelumnya memang digunakan untuk jalan pintas warga.

Soim mengakui pembangunan tembok itu sebagai bentuk kekecewaannya pada proses pilkades yang diikutinya beberapa waktu lalu. Mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Rejosari itu menilai pilkades sudah dinodai banyak kecurangan.

Dari keterangan yang berhasil dihimpun, sejumlah bidang tanah itu merupakan milik beberapa orang. Di antaranya milik Soim Pamuji dan calon kades petahana bernama Edi. Sekitar dua tahun lalu, mereka sepakat meminjamkan tanah tersebut untuk jalan pintas warga dengan kesepakatan tertentu dan akan diminta lagi jika dibutuhkan.

Cekcok Pilihan Presiden di Facebook Sampai Tega Membunuh

Cekcok Pilihan Presiden di Facebook Sampai Tega Membunuh www.konten.co.id
Cekcok pilihan calon presiden berujung maut.

Dilansir dari Tempo.co, peristiwa itu terjadi pada 23 November 2018. Dua orang warga Sampang, Jawa Timur, cekcok akibat memiliki pilihan calon presiden atau Capres yang berbeda dalam Pilpres 2019. Percekcokan itu berujung pada meninggalnya salah satu pendukung calon presiden karena ditembak oleh seorang lainnya.

Juru bicara Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, mengatakan insiden ini bermula ketika pelaku penembakan yang bernama Idris mengomentari sebuah unggahan di Facebook. Frans mengatakan Idris mengomentari tulisan di dinding Facebook yang berbunyi “Siapa pendukung capres ini akan merasakan pedang ini”.

‘Tersangka kemudian membalas unggahan tersebut dengan kalimat, ‘saya ingin merasakan tajamnya pedang itu'”

Setelah itu, pemilik unggahan mendatangi rumah Idris dan menanyakan maksud dari komentar Idris. Ternyata, aksi kedatangan sejumlah orang tersebut ke rumah Idris terekam dalam sebuah video yang nantinya diunggah oleh Subaidi di media sosial.

Subaidi dalam unggahannya meledek Idris dengan cibiran bahwa ia ketakutan setelah didatangi pemilik pedang tersebut. Subaidi pun menyematkan ancaman akan membunuh Idris dalam unggahan tersebut.

Menurut Frans, unggahan Subaidi tersebut yang menyulut sakit hati Idris. Tersangka kemudian berusaha mencari informasi tentang Subaidi. Di lain sisi, Subaidi juga masih menyimpan dendam kepada Idris.

Pada Rabu 23 November lalu, Idris dan Subaidi berpapasan di jalan. Keduanya menunggang sepeda motor. Subaidi kemudian mendekat ke arah Idris lalu menabrakan motornya. Idris pun terjatuh dari motornya.

Setelah itu, Subaidi menyodorkan pisau ke arah Idris yang masih dalam keadaan terjatuh. Namun Subaidi terpeleset. Saat itu, menurut Frans, Idris mengeluarkan senjata api dari kantongnya. Setelah dikokang, Idris menembakan pistol tersebut ke arah dada kiri Subaidi dan langsung melarikan diri. (FW)***

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *