Charlie Chaplin Hingga Kantor Djawatan Kereta Pindah ke Garut

Charlie Chaplin Hingga Kantor Djawatan Kereta Pindah ke Garut

Beberapa fakta jalur kereta api Cibatu-Cikajang belum banyak diketahui. Padahal jalur kereta tersebut menyimpan segudang sejarah dari awal pembangunan, penutupan jalur, hingga kini akan kembali diaktifkan.

Fakta Dibalik Jalur Kereta Cibatu – Cikajang

Konten.co.id (Garut),- Reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai serius digarap pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Puluhan rumah warga di Kecamatan Cibatu yang sudah diminta untuk oleh PT KAI membongkar rumahnya.

Bukan tanpa alasan PT KAI meminta segera mengosongkan rumah yang ditempati warga selama puluhan tahun. Tanah tempat bangunan didirikan merupakan lahan milik PT KAI. Warga selama ini menyewa lahan kepada PT KAI. Pro dan kontra muncul dari warga Garut tentang reaktivasi jalur kereta.

Dukungan datang dari warga yang sudah geram dengan kemacetan di jalur Bandung-Garut jika memakai kendaraan. Jika menggunakan roda empat, waktu tempuh Bandung-Garut bisa mencapai empat jam.

Sedangkan penolakan datang dari warga yang tinggal di lahan PT KAI. Warga mengaku bingung karena harus mencari tempat tinggal baru. Sedangkan uang kerahiman yang diberi PT KAI hanya Rp 250 ribu per meter.

Dibalik pro dan kontra tersebut, jalur kereta api di Garut mempunyai sejarah yang cukup panjang. Jalur kereta di Garut membentang mulai dari Kecamatan Cibatu hingga Kecamatan Cikajang di wilayah selatan sepanjang 42 kilometer. Namun pemerintah baru akan mengaktifkan jalur sepanjang 19 kilometer dari Cibatu sampai Garut.

Jalur Kereta Terakhir yang Dibangun Belanda
Intrias dari Komunitas Kereta Anak Bangsa membeberkan sejumlah cerita unik sepanjang jalur kereta Cibatu-Cikajang. Jalur Garut-Cikajang merupakan jalur kereta terakhir yang dibangun dan dioperasikan di Pulau Jawa oleh perusahaan kereta asal Belanda Staatsspoorwegen pada 1 Agustus 1930. Pembangunan jalur Garut-Cikajang sempat terhenti karena adanya krisis ekonomi di Eropa.

“Ada 24 stasiun sepanjang Cibatu sampai Cikajang. Sampai kini jalur kereta di Garut masih banyak peninggalan dibanding jalur lain di Jawa Barat,” ucap Intrias.

Intrias yang sudah sering menyusuri jalur KA yang tak aktif mengaku jika pada era Hindia-Belanda pembangunan jalur kereta memperhatikan berbagai aspek terutama dari sisi ekonomi. Wilayah Cikajang yang kaya akan hasil bumi menjadi pilihan dibukanya jalur tersebut.

Pada November 1982, jalur kereta Garut-Cikajang resmi dihentikan. Menyusul pada 9 Februari 1983, jalur kereta api Cibatu-garut ikut ditutup.

Dari Charlie Chaplin sampai Pemindahan Kantor Djawatan
Menurut Intrias, Charlie Chaplin bintang komedian Hollywood pernah dua kali berkunjung ke Garut pada 1927 dan 1935. Charlie Chaplin sangat terpukau melihat suasana alam Garut saat menggunakan kereta.

Charlie Chaplin memberikan julukan Swiss Van Java atau Swis di Pulau Jawa karena melihat pemandangan kereta api yang berada di pegunungan Garut seperti di Swis.

Kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) juga sempat dipindahkan dari Bandung ke Cisurupan karena kondisi genting semasa perang kemerdekaan tahun 1946. DKARI menempati hotel Grand Cisurupan yang kini sudah tak ada lagi sisa bangunannya.

Dengan kondisi jalur yang menanjak, lanjut Intrias, lokomotif yang digunakan pun khusus yakni lokomotif uap tipe Mallet seri CC 50 dan CC 10. Lokomotif tersebut memang dirancang untuk melintasi jalur pegunungan yang berupa tanjakan, turunan, dan tikungan.

“Stasiun Garut yang ada saat ini juga bukan bangunan aslinya. Stasiun tersebut sempat dibakar pada masa perang kemerdekaan dan dibangun kembali pada 1949. Sedangkan bangunan lama didirikan pada 1889,” ujarnya.

Punya Ciri Khas di Setiap Stasiun
Setiap stasiun di tanah Garut memiliki ciri khas dari arsitektur bangunannya. Pada bagian sisi atap terdapat tumpukan kayu yang melengkung. Model atap itu terinspirasi dari payung bambu. Terdapat juga sebuah tiang panjang yang mirip dengan pegangan payung bambu.

Stasiun Cikajang menjadi stasiun tertinggi di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Di bangunan stasiun masih tertulis +1.246 m yang menandakan ketinggiannya yakni 1.246 meter. Di belakang stasiun kini sudah berdiri sejumlah bangunan. Mulai dari bengkel, garasi mobil, dan rumah warga. Jaraknya dari Jalan Cikajang hanya sekitar 50 meter. Lokasinya berada di Kampung Padasono, Desa Padasuka, Kecamatan Cikajang.

Kini sejumlah stasiun bekas peninggalan zaman Belanda itu kondisinya memprihatinkan. Banyak bangunan yang didirikan di atas lahan milik PT KAI. Menurutnya, jika rencana aktivasi akan dilakukan harus sesegera mungkin. Hanya di wilayah perkotaan Garut saja yang lahan milik PT KAI banyak didirikan bangunan. Sedangkan di wilayah lainnya masih banyak jalur yang bisa digunakan. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *