10 Bulan Nunggak SPP, Kepsek Tega Hukum Murid

10 Bulan Nunggak SPP, Kepsek Tega Hukum Murid

Hanya karena tak bayar SPP, seorang murid SD dihukum kepala sekolah. Ia bahkan mengalami trauma akibat peristiwa itu.

Dihukum Push Up, Murid SD Ini Belum Bayar SPP

Konten.co.id (Bogor) – Telat membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama 10 bulan, seorang murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bogor dihukum kepala sekolah.

Tak tanggung, murid berinisial GNS (10) itu diminta untuk melakukan push up sebanyak 100 kali. Menurut korban, peristiwa itu dialaminya pada pekan lalu.

Ia merupakan pelajar di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor. Seperti dikutip dari Radar Bogor, korban mengalami trauma berat akibat peristiwa itu.

GNS bahkan tak mau datang ke sekolah. Ia menyebut, hukuman yang diterimanya bukan kali pertama. Menurutnya, ia sudah dua kali menerima hukuman itu.

“Dulu juga pernah dihukum, tapi cuma 10 kali push up. Di kelas aku juga ada dua teman yang dihukum sama,” ujarnya kepada wartawan, Senin (28/1/2019).

Akibat hukuman tersebut, warga Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat itu mengalami sakit di perutnya.

GNS mengaku trauma jika kembali ke sekolah karena takut diberi hukuman lagi. Orang tuanya memang belum mampu membayar uang SPP.

“Kemarin disuruh menghadap ke kepala sekolah. Katanya belum dapat kartu ujian, soalnya belum bayaran,” katanya.

Kakak GNS menuturkan jika keluarga berencana memindahkannya ke sekolah lain. Keluarga berharap kasus tersebut tak terulang kepada murid lain.

“Kasihan sudah 10 hari enggak mau sekolah sama ketemu orang,” ucapnya.

Kepala Sekolah SDIT tempat GNS bersekolah, Budi, tak mengelak adanya hukuman yang diberikan ke muridnya karena menunggak uang SPP. Dilansir dari Kompas.com, alasan Budi memberikan hukuman sebagai shock therapy.

Awalnya pihak sekolah memanggil GNS untuk berdiskusi soal uang sekolahnya yang sudah lebih dari 10 bulan belum dibayarkan. Setelah diskusi itu, GNS diminta untuk push up.

“Biar orang tuanya mau menemui pihak sekolah. Orang tua GNS sudah sering dipanggil ke sekolah, tapi tidak pernah datang,” ujar Budi.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, apabila orang tua tidak datang saat dipanggil ke sekolah, seharusnya pihak sekolah langsung mendatangi rumah murid yang tidak mampu melunasi uang sekolahnya.

“Ya kalau orangtuanya enggak datang-datang, lakukan home visit atau datang ke rumah anak. Nanti di sana bisa berkoordinasi dengan RT dan bisa dibicarakan di sana. Ketika orangtua ternyata tidak mampu kan bisa dibantu atau kalau orangtua tersebut ternyata mampu tapi enggak mau bayar kan lain lagi,” ucap Retno.

Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, mengatakan pihaknya akan menelusuri dulu apa sebenarnya penyebab GNS menunggak SPP sampai lebih dari 10 bulan. Pihaknya akan bekerja sama dengan dinas terkait untuk menangani kasus ini.

“Jika memang perlu memindahkannya ke sekolah lain, kami akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat,” ucapnya. (FW)

Iman Hidayat
ADMINISTRATOR
PROFILE

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *